Connect with us

DUNIA

Ancaman Besar di Gaza: Israel Incar Kendali 75% Wilayah dalam Dua Bulan

Aktualitas.id -

Tentara Israel menewaskan sedikitnya 77 warga Palestina dalam serangan udara di Jalur Gaza sejak pengumuman kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. (Anadolu)

AKTUALITAS.ID – Situasi di Jalur Gaza semakin genting. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) berencana menguasai 75 persen wilayah Gaza hanya dalam dua bulan, setelah kembali melancarkan serangan besar-besaran sejak 18 Maret lalu, menghentikan gencatan senjata yang sempat berlangsung selama dua bulan.

Menurut dokumen militer yang dilaporkan The Times of Israel, lima divisi IDF kini sudah dikerahkan ke Gaza, mencakup puluhan ribu tentara. Target mereka bukan lagi sekadar menghancurkan kelompok Hamas, tetapi juga menguasai dan menduduki wilayah secara langsung mencakup seluruh Rafah, Khan Younis, hingga bagian utara Kota Gaza.

Ironisnya, serangan ini memaksa sekitar dua juta warga Palestina untuk berpindah ke hanya 25 persen dari total wilayah Gaza, yang diklaim sebagai zona “aman” oleh Israel. Tiga wilayah penampungan itu meliputi Mawasi di pesisir selatan, jalur di Deir al-Balah dan Nuseirat, serta sebagian kecil pusat Kota Gaza.

Diperkirakan, sekitar 700.000 warga kini menumpuk di Mawasi, 300.000 – 350.000 di Gaza tengah, dan satu juta lebih bertahan di Kota Gaza, menghadapi krisis kemanusiaan yang makin memburuk akibat kelangkaan makanan, air bersih, dan layanan medis.

Israel berdalih, operasi ini bertujuan untuk menghancurkan seluruh infrastruktur militer Hamas, memutus sistem komando, serta membubarkan struktur sipil organisasi tersebut. Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir menegaskan, ini bukan “perang tanpa akhir”, namun bagian dari strategi untuk membuka jalan pembebasan 58 sandera yang masih ditahan Hamas.

Meski begitu, para analis mencemaskan kurangnya peta jalan politik. Belum ada kejelasan siapa yang akan mengelola Gaza jika Hamas benar-benar digulingkan. Dalam kekosongan kekuasaan, kekacauan dan penderitaan sipil dikhawatirkan justru semakin meluas.

Sementara dunia internasional mendesak penghentian kekerasan, rencana Israel ini dikhawatirkan akan memicu eksodus warga sipil dan memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah yang telah porak poranda sejak konflik kembali pecah Oktober lalu. (Mun)

TRENDING