DUNIA
China Larang Ekspor Barang Dwiguna, Jepang Protes Keras
AKTUALITAS.ID – Pemerintah Jepang mengutuk keras keputusan China yang melarang ekspor barang-barang dwiguna yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer. Tokyo menilai kebijakan Beijing tersebut sebagai langkah yang tidak dapat diterima dan sangat disesalkan, di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara di kawasan Asia Timur.
Mengutip laporan Azerbaijan News, Rabu (7/1/2026), ketegangan Jepang–China kian intensif setelah Beijing memberlakukan larangan ekspor terhadap barang dan teknologi strategis yang memiliki aplikasi militer. Kebijakan ini dinilai langsung menargetkan Jepang.
Menurut laporan Reuters, larangan ekspor tersebut mencakup sejumlah unsur tanah jarang yang sangat krusial bagi industri berteknologi tinggi, seperti drone, semikonduktor, dan sistem persenjataan modern. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menyebut kebijakan China itu menyimpang dari praktik perdagangan internasional yang adil.
“Langkah ini secara jelas tidak adil dan bertentangan dengan norma internasional,” tegas Kihara.
Perselisihan kedua negara tidak terlepas dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada akhir 2025 lalu. Saat itu, Takaichi memperingatkan Jepang siap melakukan pengerahan militer jika China melancarkan serangan terhadap Taiwan. Pernyataan tersebut memicu kemarahan Beijing dan memperburuk hubungan diplomatik kedua negara.
Ketegangan geopolitik ini langsung berdampak pada pasar keuangan. Indeks Nikkei Jepang tercatat turun sekitar 1%, lebih dalam dibandingkan indeks global lainnya. Sementara itu, saham perusahaan kontraktor pertahanan utama seperti Kawasaki Heavy Industries dan Mitsubishi Heavy Industries anjlok hingga 3%.
Media pemerintah China bahkan menyebut Beijing tengah mempertimbangkan untuk memperketat peninjauan lisensi ekspor logam tanah jarang ke Jepang, sebuah langkah yang berpotensi menekan sektor manufaktur Negeri Sakura secara signifikan.
Meski Jepang telah melakukan diversifikasi pasokan sejak China membatasi ekspor tanah jarang pada 2010, data menunjukkan sekitar 60% impor tanah jarang Jepang masih bergantung pada China, membuat kebijakan terbaru Beijing dinilai berisiko tinggi bagi industri strategis Jepang.
Ketegangan ini diperkirakan masih akan berlanjut dan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi serta keamanan kawasan Asia Pasifik dalam waktu dekat. (Mun)
-
NUSANTARA05/08/2026 23:00 WIBBMKG Beberkan Daftar Perairan yang Diterjang Gelombang 4 Meter
-
JABODETABEK05/08/2026 22:00 WIBPolda Metro Jaya: Perempuan asal Ciamis Jadi Tersangka Kasus Hoaks Demo
-
POLITIK06/08/2026 17:00 WIBMardani Nilai Oposisi dan Koalisi Sama-Sama Terhormat
-
DUNIA05/08/2026 21:00 WIBDrone Houthi Hantam Bandara Arab Saudi
-
NASIONAL06/08/2026 10:00 WIBSahroni Minta TNI-Polri Kawal Langsung Kasus Polisi Tewas
-
NASIONAL06/08/2026 11:00 WIBKPK: Raja Juli Diduga Terima Sin$14.000 dari Bupati Kuansing
-
NUSANTARA06/08/2026 13:30 WIBOknum Polisi Bunuh Lansia Usai Pinjaman Rp50 Juta Ditolak
-
EKBIS06/08/2026 10:30 WIBRupiah Menguat ke Rp17.900 per Dolar AS

















