Connect with us

DUNIA

Gertak Iran, Donald Trump Kerahkan Kekuatan Tempur Laut dan Jet F-15 ke Timur Tengah

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat saat ini tengah mengerahkan armada militer berkekuatan besar yang bergerak menuju Iran, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Trump tidak menutup kemungkinan bahwa pengerahan tersebut dapat berujung pada aksi militer.

“Anda tahu, kami punya banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga. Kami punya armada besar yang menuju ke arah itu, dan kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan dari Davos, Swiss, menuju Washington DC, Kamis (22/1/2026).

Trump menegaskan bahwa Washington terus memantau Iran secara ketat. Meski menyebut kekuatan militer AS dalam posisi siaga, ia mengaku lebih memilih agar tidak terjadi eskalasi konflik.

“Kami memiliki kekuatan besar yang menuju Iran. Saya lebih suka tidak melihat apa pun terjadi,” ujar Trump, seperti dikutip Anadolu. “Kita punya armada masif yang menuju ke sana, mungkin tidak perlu kita pakai. Kita lihat saja nanti,” tambahnya.

Pernyataan Trump muncul menyusul ancamannya sebelumnya untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran, sebagai respons atas penanganan Teheran terhadap gelombang protes yang dipicu memburuknya kondisi ekonomi. Krisis ekonomi Iran sendiri berlangsung di tengah tekanan sanksi Barat yang telah bertahun-tahun diberlakukan dengan dalih mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Meski belakangan Trump melunakkan retorikanya, pergerakan militer AS di kawasan terus berlanjut. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan menjadi ujung tombak armada laut AS yang menuju Timur Tengah.

The Washington Post mengutip pejabat Angkatan Laut AS yang menyebutkan bahwa USS Abraham Lincoln saat ini berada di Samudera Hindia dan diperkirakan akan memasuki kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Data pelacakan kapal menunjukkan kapal induk tersebut sebelumnya berada di Laut Cina Selatan, sebelum melintasi Selat Malaka, jalur strategis yang menghubungkan Asia Timur dengan Samudera Hindia.

Laporan Newsweek serta citra pengamatan kapal di Singapura menyebutkan USS Abraham Lincoln berlayar secara senyap pada malam hari, bahkan mematikan sistem pelacak otomatis (AIS)—langkah yang lazim dilakukan dalam operasi militer sensitif. Kapal induk ini diperkirakan tiba di kawasan Timur Tengah dalam waktu 72 jam hingga satu minggu.

USS Abraham Lincoln dikawal sejumlah kapal perusak dan membawa jet-jet tempur sebagai bagian dari kekuatan serangan laut AS. Di saat yang sama, 12 jet tempur F-15 Amerika Serikat dilaporkan telah mendarat di Yordania. Selain itu, pesawat kargo militer AS juga tiba di pangkalan Diego Garcia, membawa sistem pertahanan rudal Patriot untuk melindungi aset Amerika di kawasan Teluk.

Sejumlah analis militer menilai, dalam waktu lima hingga enam hari, Amerika Serikat dapat mencapai kesiapan penuh untuk operasi militer berskala besar di kawasan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran akan membalas dengan kekuatan penuh jika kembali diserang. Peringatan tersebut disampaikan dalam artikel opini Araghchi yang dimuat di The Wall Street Journal.

“Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak memiliki keraguan untuk membalas dengan segala yang kami miliki jika terjadi serangan baru,” tulis Araghchi, merujuk pada konflik bersenjata yang terjadi pada Juni tahun lalu.

Araghchi menegaskan bahwa peringatan tersebut bukan sekadar ancaman. Ia memperingatkan bahwa konfrontasi dengan Iran akan berlangsung lama, meluas, dan berdampak serius terhadap stabilitas kawasan serta masyarakat global.

Sebelumnya, pejabat tinggi militer Iran Jenderal Abolfazl Shekarchi juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan menahan diri jika mendapat agresi lebih lanjut. Pernyataan itu disampaikan menyusul meningkatnya retorika ancaman terhadap kepemimpinan Iran.

Ketegangan terbaru ini kembali memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran, yang dapat berdampak luas pada stabilitas geopolitik dan ekonomi global. (Mun)

TRENDING