Connect with us

DUNIA

Saudi Tolak Zona Serang terhadap Iran Lewat Wilayah Udara dan Perairan

Aktualitas.id -

Pangeran Mohammed bin Salman, putra mahkota baru Kerajaan Arab Saudi.(Arab News)

AKTUALITAS.ID – Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) menegaskan bahwa wilayah udara dan teritorial Arab Saudi tidak akan diizinkan digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Iran. Sikap tegas tersebut disampaikan MbS dalam pembicaraan via telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, pada Selasa (27/1/2026).

Menurut laporan Reuters, MbS menekankan komitmen Arab Saudi untuk menjaga stabilitas kawasan serta mendukung setiap upaya yang bertujuan menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan jalur diplomasi.

MbS menyatakan dukungan Saudi terhadap setiap langkah “yang akan menyelesaikan perbedaan melalui dialog” demi meningkatkan keamanan dan stabilitas kawasan Timur Tengah, demikian dikutip dari Reuters.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa Teheran menyambut baik setiap proses yang berjalan dalam kerangka hukum internasional, khususnya untuk mencegah pecahnya perang di kawasan.

Pernyataan MbS ini sejalan dengan sikap Uni Emirat Arab (UEA) yang sebelumnya juga menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun perairan teritorialnya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat dalam beberapa hari terakhir, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengungkapkan bahwa armada militer AS sedang bergerak menuju kawasan Timur Tengah. Pada awal pekan ini, kapal induk nuklir terbesar Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, dilaporkan telah tiba di kawasan tersebut.

Sejumlah kapal perang AS kini dilaporkan berkumpul di sekitar kawasan Iran, di tengah memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington juga mengindikasikan tengah mempertimbangkan opsi serangan terhadap Iran, sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap demonstrasi domestik.

Iran sendiri tengah diguncang gelombang unjuk rasa besar sejak 28 Desember, dipicu oleh krisis ekonomi. Aksi protes yang berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 3.000 orang, berdasarkan perhitungan pemerintah Iran.

Sikap Arab Saudi dan negara-negara Teluk yang menolak penggunaan wilayahnya untuk konflik militer dinilai menjadi penyangga penting guna mencegah eskalasi perang terbuka di Timur Tengah. (Mun)

TRENDING