Connect with us

DUNIA

Persiapan Tempur: Trump Tarik Ribuan Militer AS dari Pangkalan Timur Tengah

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Amerika Serikat (AS) mulai menarik sejumlah personel diplomatik dan pasukan militernya dari Lebanon dan Suriah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Langkah ini memicu spekulasi bahwa Washington tengah mempersiapkan skenario militer apabila negosiasi nuklir dengan Teheran kembali menemui jalan buntu.

Media Lebanon melaporkan Kedutaan Besar AS di Beirut mengevakuasi puluhan personel melalui Bandara Internasional Rafic Hariri pada Senin (23/2/2026).

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS menyatakan evakuasi dilakukan terhadap staf non-esensial dan keluarga mereka. Ia menegaskan langkah tersebut bersifat sementara.

Menurut pejabat tersebut, Kedubes AS tetap beroperasi, namun hanya dengan staf inti guna menjaga keselamatan personel sekaligus memastikan layanan bagi warga negara AS tetap berjalan.

Selain Lebanon, AS juga memindahkan pasukan dari Suriah. Konvoi militer dilaporkan bergerak dari pangkalan Qasrak di timur laut Suriah menuju wilayah Kurdi semi-otonom di Irak utara.

Dalam dua pekan terakhir, pasukan AS juga disebut telah meninggalkan dua pangkalan penting lainnya, yakni Al Tanf di tenggara dan Shaddadi di timur laut Suriah.

Sumber AFP menyebut penarikan penuh pasukan AS dari Suriah dapat rampung dalam waktu satu bulan.

Sebelumnya, AS juga mengevakuasi ratusan tentara dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar – pangkalan terbesar AS di Timur Tengah.

Selain itu, fasilitas milik Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain turut mengalami pengurangan personel.

Langkah penarikan ini dinilai berkaitan dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan terbatas ke Iran apabila negosiasi nuklir kembali gagal.

Sementara itu, pemerintah Iran menegaskan akan membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah jika negaranya diserang.

Situasi ini membuat stabilitas kawasan kembali berada dalam tekanan tinggi, dengan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak luas terhadap keamanan regional dan pasar energi global. (Mun)

TRENDING