Connect with us

DUNIA

Hacker China Nyamar Jadi Eks Pejabat Gedung Putih Demi Curi Data AI

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Perang intelijen di sektor kecerdasan buatan (AI) makin memanas. Kelompok peretas yang terafiliasi dengan China tertangkap basah melancarkan operasi spionase siber tingkat tinggi dengan menyamar sebagai pakar AI Amerika Serikat. Tujuannya meretas email dan merampas kata sandi para pejabat serta ahli strategis pembuat kebijakan.

Perusahaan keamanan siber Proofpoint mengungkap bahwa kelompok peretas bersandi “TA419” ini telah bergerilya setidaknya sejak 2025. Mereka secara spesifik membidik para ahli di lembaga pemikir, kontraktor pertahanan, universitas, hingga firma hukum terkemuka di Amerika Serikat dan Jepang yang menangani regulasi AI, pengendalian ekspor, serta strategi AI nasional.

Modus operandi peretas ini terbilang sangat rapi dan licik. Mereka mengirimkan email phishing dengan memalsukan identitas tokoh penting di ekosistem kebijakan AS. Salah satu nama besar yang dicatut adalah Lynne Parker, mantan Wakil Direktur Utama Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih. Email tersebut memancing korban dengan tawaran kerja sama fiktif terkait AI, yang ujung-ujungnya mengarahkan penerima ke situs palsu perampas kredensial.

Mantan pejabat Gedung Putih yang kini memimpin Penn Center on Media, Technology, and Democracy, Alex Engler, nyaris masuk perangkap. Pada Rabu (30/9/2026), Engler mengaku menerima email undangan proyek kebijakan AI yang seolah-olah dikirim langsung oleh Parker. Beruntung, instingnya mencium kejanggalan dan setelah melakukan konfirmasi silang, ia menyadari bahwa pengirimnya adalah peretas yang menyamar.

Berdasarkan analisis Proofpoint, kampanye siber yang menyasar kelompok sangat spesifik dengan jumlah kurang dari 10 orang ini membuktikan bahwa motif utama TA419 bukanlah sekadar pencurian teknologi murni. Peretas secara khusus mengincar informasi intelijen tingkat tinggi terkait arah dan proses pembuatan kebijakan AI di Amerika Serikat.

Menanggapi pencatutan namanya, Lynne Parker menyebut manuver peretasan ini sebagai sesuatu yang logis di tengah sengitnya persaingan supremasi AI antara Washington dan Beijing. “Amerika Serikat dan China sedang bersaing dalam bidang AI. Mencoba membuat orang-orang di bidang kebijakan AI mengungkapkan informasi mengenai rencana kebijakan AI mereka, bukan sesuatu yang mengejutkan,” tegas Parker.

Hingga saat ini, Kedutaan Besar China di Washington memilih bungkam terkait temuan ini. Meski begitu, pemerintah China selama ini selalu konsisten membantah segala tuduhan keterlibatan dalam berbagai operasi spionase siber global. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version