OTOTEK
Bahaya! 400 Aplikasi Beracun Diam-Diam Menyusup ke HP Anda
AKTUALITAS.ID – Dunia teknologi kembali diguncang skandal keamanan siber berskala besar. Investigasi independen mengungkap keberadaan lebih dari 400 aplikasi dan domain web yang menyamar sebagai layanan kecerdasan buatan (AI) biasa, namun diduga menyimpan fungsi tersembunyi yang mengarah pada aktivitas ilegal dan berbahaya.
Sekilas, aplikasi-aplikasi tersebut tampak tidak mencurigakan. Sebagian menawarkan layanan pengolah foto hewan peliharaan, kursus bahasa, panduan kebugaran, hingga fitur hiburan berbasis AI. Namun di balik tampilan ramah pengguna itu, peneliti menemukan mekanisme tersembunyi yang dapat mengarahkan pengguna ke platform pembuat konten manipulatif berbasis teknologi deepfake.
Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana pelaku memanfaatkan kemajuan teknologi AI untuk menyamarkan aktivitas yang berbeda dari fungsi yang ditampilkan di toko aplikasi resmi.
Menurut hasil investigasi, modus utama yang digunakan adalah memanfaatkan server eksternal jarak jauh. Ketika aplikasi dipasang di perangkat, sistem akan secara otomatis terhubung ke server tertentu dan mengirimkan sejumlah data teknis pengguna, termasuk bahasa perangkat, sumber iklan yang diklik, hingga identifikasi unik perangkat.
Melalui data tersebut, server kemudian menentukan konten apa yang akan ditampilkan kepada pengguna. Sebagian orang hanya melihat fitur standar sesuai iklan aplikasi. Namun pengguna tertentu yang masuk melalui jalur promosi khusus dapat dialihkan ke layanan lain yang tidak ditampilkan saat proses peninjauan aplikasi.
Skema inilah yang disebut menjadi celah besar dalam sistem pengawasan platform distribusi aplikasi digital. Karena fitur sensitif tidak berada di dalam aplikasi utama, pengembang dapat mengubah konten secara sepihak melalui server eksternal tanpa harus mengirim pembaruan aplikasi untuk diperiksa ulang.
Salah satu aplikasi yang menjadi sorotan adalah Viefur. Secara publik aplikasi tersebut dipromosikan sebagai generator foto hewan peliharaan berbasis AI. Namun penelitian menemukan adanya akses tersembunyi menuju layanan rekayasa foto dan video yang sama sekali berbeda dari fungsi yang ditampilkan kepada pengguna umum.
Peneliti juga menemukan keterhubungan teknis antara ratusan domain terenkripsi, sistem pelacakan iklan, dan kumpulan kode pemrograman yang digunakan secara bersamaan. Fakta tersebut memunculkan dugaan bahwa operasi ini dijalankan oleh jaringan terorganisasi, bukan oleh satu atau dua pengembang individu.
Hingga September 2026, sedikitnya 27 aplikasi terkait ditemukan beredar di Google Play Store dengan total lebih dari 350 ribu kali diunduh. Yang mengkhawatirkan, sebagian besar aplikasi tersebut lolos klasifikasi usia umum sehingga dapat diakses oleh berbagai kalangan pengguna.
Jejak investigasi juga mengarah pada jaringan pengembang berbahasa Mandarin dan sebuah perusahaan yang terdaftar di Hong Kong bernama KeLing Technology Limited.
Menyusul temuan tersebut, Apple bergerak cepat dengan menghapus 19 aplikasi yang terafiliasi dari App Store, termasuk Viefur. Menurut pihak Apple, aplikasi itu awalnya lolos proses peninjauan karena mematuhi aturan yang berlaku saat diajukan.
Namun setelah mendapatkan persetujuan, pengembang diduga mengubah konten yang disajikan melalui server eksternal tanpa melalui proses evaluasi ulang.
Kasus ini membuka kelemahan serius dalam mekanisme pengawasan aplikasi modern. Para pelaku tidak lagi hanya menyembunyikan kode berbahaya di dalam aplikasi, melainkan memanfaatkan infrastruktur server luar untuk mengubah fungsi aplikasi kapan saja setelah aplikasi berhasil dipublikasikan.
Sebagai respons, Apple memperbarui pedoman App Store pada Oktober 2026. Aturan baru tersebut mempertegas larangan penyalahgunaan AI untuk pembuatan konten eksplisit tanpa izin dan memperketat sanksi terhadap praktik “bait and switch”, yakni menampilkan fungsi berbeda setelah aplikasi memperoleh persetujuan.
Meski demikian, para ahli keamanan siber mengingatkan bahwa ancaman serupa masih berpotensi muncul kembali. Pemanfaatan server eksternal membuat pendeteksian menjadi jauh lebih sulit karena perubahan dapat dilakukan secara real-time tanpa jejak pembaruan aplikasi yang terlihat oleh pengguna.
Skandal ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat mengunduh aplikasi berbasis AI. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tidak semua layanan yang terlihat aman benar-benar bekerja sesuai fungsi yang dipromosikan. Bagi pengguna, kewaspadaan kini menjadi benteng pertahanan pertama menghadapi gelombang kejahatan digital generasi baru. (Kusuma/Mun)
-
JABODETABEK04/11/2026 05:30 WIBBMKG: Sebagian Besar Jakarta Berpotensi Hujan Ringan Rabu
-
NASIONAL04/11/2026 05:00 WIBIJTI Usulkan Udin Bernas Jadi Pahlawan Nasional, Mensos Siapkan Proses Pengusulan
-
EKBIS04/11/2026 10:30 WIBRupiah Perkasa Lawan Dolar AS Jelang Pemilu Amerika
-
POLITIK04/11/2026 06:00 WIBHabiburokhman Ungkap Dugaan Polisi Minta Rp50 Juta ke Kader Gerindra
-
EKBIS04/11/2026 09:30 WIBIHSG Anjlok Hampir 1,5 Persen
-
NUSANTARA04/11/2026 08:30 WIBBandar Sabu di Morowali Pakai AI untuk Jalankan Bisnis Haram
-
Berita04/11/2026 10:00 WIBMenko Yusril Sebut Kasus Presiden Prabowo Belum Dijerat Makar
-
POLITIK04/11/2026 11:00 WIBHabiburokhman Pastikan Isu Gibran Dibedah dalam Rapat Fraksi