EKBIS
UNCTAD: Pertumbuhan Ekonomi Global Diprediksi Melambat, Negara Berkembang Perlu Waspada
AKTUALITAS.ID – onferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan mengalami perlambatan signifikan, dari 2,8 persen pada tahun 2024 menjadi hanya 2,3 persen pada 2025. Hal ini menandai potensi pergeseran menuju jalur resesi global, dengan negara-negara berkembang sebagai pihak yang paling rentan terhadap dampaknya.
Dalam laporan terbarunya yang bertajuk Trade and Development Foresights, UNCTAD menyebutkan bahwa kombinasi berbagai tekanan global—mulai dari permintaan yang melemah, kebijakan perdagangan yang tidak stabil, hingga ketidakpastian sistemik—telah menciptakan situasi yang penuh tantangan bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
“Permintaan yang lesu, guncangan kebijakan perdagangan, gejolak keuangan, dan ketidakpastian sistemik semakin memperbesar tekanan, terutama bagi negara-negara berkembang,” ungkap UNCTAD pada konferensi pers yang digelar Rabu (16/4/2025).
Laporan ini menjadi peringatan dini bagi banyak negara, terutama di kawasan berkembang, untuk memperkuat ketahanan ekonomi, memperluas kerja sama internasional, dan mempercepat reformasi struktural demi menghindari dampak negatif yang lebih dalam. (YAN KUSUMA/DIN)
-
PAPUA TENGAH16/02/2026 16:46 WIBPria Paruh Baya di Mimika Ditemukan Gantung Diri
-
NASIONAL16/02/2026 18:30 WIBBareskrim: AKBP Didik Miliki Narkoba untuk Konsumsi
-
RAGAM16/02/2026 13:30 WIBHilal Diprediksi Tak Terlihat 17 Februari, Ini Perkiraan Awal Ramadan 2026 di Berbagai Negara
-
PAPUA TENGAH16/02/2026 15:16 WIBTiga Unsur Ini Punya Peran Penting untuk Penyelesaian Tapal Batas Kapiraya
-
OLAHRAGA16/02/2026 19:41 WIBDidukung PTFI, Tiga Pemain PFA Tempah Kemampuan di Klub Austria
-
OLAHRAGA16/02/2026 20:30 WIBBayern Muenchen Masih Perkasa di Puncak Klasemen
-
NUSANTARA16/02/2026 14:30 WIBWaspada! Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Sangat Lebat 16-21 Februari 2026 Menurut BMKG
-
POLITIK16/02/2026 13:00 WIBBiaya Politik Pilkada Langsung Mencekik, Pengamat: Jadi Akar Korupsi Kepala Daerah

















