EKBIS
Rupiah Kritis! Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS Pagi Ini
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Rabu (4/3/2026), mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Tekanan terjadi seiring penguatan indeks dolar dan meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah yang menekan mayoritas mata uang Asia.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.12 WIB di pasar spot, rupiah ambrol 50 poin atau 0,3% ke level Rp16.922 per dolar AS. Rupiah spot dibuka melemah 0,29% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.872 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat naik 0,13% ke posisi 99,18–99,19, menguat dari sehari sebelumnya di level 99,05.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,40%, disusul dolar Taiwan 0,37%, peso Filipina 0,33%, dan rupiah 0,29%.
Dolar Singapura dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,09%, sedangkan dolar Hong Kong dan yuan China turun 0,04%.
Namun, won Korea Selatan dan yen Jepang justru menguat terhadap dolar AS, masing-masing sebesar 0,36% dan 0,01%.
Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya sentimen risk-off di pasar global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Investor global cenderung memburu aset safe haven seperti dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik.
Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp16.865 per dolar AS pada waktu yang sama, melemah dibanding pembukaan perdagangan sebelumnya di Rp16.843 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren mata uang Asia lainnya. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyebut pelemahan rupiah secara month to date (mtd) tercatat 0,51% dan dinilai relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang regional.
“Pelemahan rupiah masih aligned dengan regional, relatif lebih baik dibandingkan regional,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
BI menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meluasnya dampak konflik global. Langkah yang ditempuh antara lain:
Intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore
Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik
Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder
Selain itu, cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS pada akhir Januari 2026 dinilai masih kuat untuk menopang stabilitas rupiah.
Masuknya arus modal asing sebesar Rp25,7 triliun sepanjang 2026 juga menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik tetap terjaga.
Dengan tekanan eksternal yang masih tinggi, pergerakan rupiah diperkirakan tetap volatil dalam jangka pendek, terutama jika indeks dolar terus menguat dan konflik global belum mereda. (Firmansyah/Mun)
-
FOTO03/03/2026 21:00 WIBFOTO: Presiden Prabowo Pimpin Pemakaman Mantan Wapres Try Sutrisno
-
EKBIS03/03/2026 21:31 WIBAgresi AS-Israel ke Iran Ancam Selat Hormuz dan Bab el Mandeb, Ekonomi Dunia di Ujung Risiko
-
NUSANTARA03/03/2026 17:00 WIBMie dan Teri Berformalin Ditemukan BBPOM Serang
-
POLITIK03/03/2026 20:13 WIBBahas Geopolitik Global, Prabowo Undang Mantan Presiden ke Istana
-
NASIONAL03/03/2026 14:00 WIBEddy Ingatkan Risiko Harga Minyak Akibat Konflik Timur Tengah
-
EKBIS03/03/2026 16:30 WIBKolaborasi Riset Swasembada Energi, Kemdiktisaintek Gandeng MIND ID
-
PAPUA TENGAH03/03/2026 19:43 WIBPemkab Mimika Terbitkan SE Bupati untuk Proteksi Kontraktor Lokal
-
OTOTEK03/03/2026 15:30 WIBEra 6G Dimulai, Internet Siap Berubah Total

















