EKBIS
Efek Perang ‘Epic Fury’ Trump Bikin Rupiah dan Mata Uang Asia Rontok Berjamaah
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menghadapi tekanan serius pada Kamis, 2 April 2026. Setelah sempat menunjukkan rebound singkat di awal perdagangan, mata uang Garuda kini kembali melemah. Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya indeks dolar global dan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar akibat pidato terbaru Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran.
Di awal perdagangan, rupiah sempat menunjukkan sinyal positif. Dibuka di level Rp16.981 per dolar AS, rupiah berhasil menguat tipis 0,01% dari penutupan hari sebelumnya di Rp16.983. Data Refinitiv juga mencatat apresiasi 0,03% ke Rp16.970/US$, melanjutkan kinerja positif Rabu (1/4/2026) yang menguat 0,09%. Namun, euforia itu hanya sesaat.
Sayangnya, penguatan rupiah tidak bertahan lama. Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.06 WIB, rupiah terkoreksi ke level Rp17.025 per USD, turun 42 poin atau setara 0,25% dari penutupan sebelumnya. Sementara data Yahoo Finance menunjukkan rupiah di level Rp16.997 per USD pada waktu yang sama. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah hari ini.
Pemicu utama pelemahan ini adalah pernyataan Donald Trump dari Gedung Putih. Ia menegaskan konflik dengan Iran akan terus berlanjut sekitar dua hingga tiga pekan lagi, dengan operasi militer “Operation Epic Fury” yang diklaim berjalan sesuai target. “Kami akan menyelesaikan misi ini dan kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat,” ujar Trump.
Pernyataan ini langsung memicu respons negatif di pasar keuangan global, meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor memburu aset aman seperti dolar AS. Hal ini terlihat dari indeks dolar AS yang menguat 0,24% ke level 99,89 pada pukul 09.36 WIB.
Tekanan terhadap dolar AS tidak hanya dirasakan rupiah. Beberapa mata uang di Asia juga ambles. Peso Filipina anjlok 0,47%, diikuti baht Thailand yang tertekan 0,36%, dan yen Jepang terkoreksi 0,29%. Dolar Singapura turun 0,24%, yuan China tergelincir 0,13%, dan dolar Taiwan melemah tipis 0,05%.
Di tengah badai ini, hanya ringgit Malaysia yang berhasil menguat signifikan 0,12% dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01%.
Kondisi geopolitik yang memanas ini menjadi tantangan besar bagi stabilitas mata uang dan ekonomi global. Pelaku pasar dan masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan situasi ini dengan cermat. (Firmansyah/Mun)
-
FOTO01/04/2026 17:07 WIBFOTO: Halal Bihalal KWP Bersama DPR
-
POLITIK01/04/2026 14:00 WIBPakar Desak Prabowo Singkirkan Menteri Minim Pengalaman
-
FOTO02/04/2026 07:50 WIBFOTO: Suasana Gedung DPR saat Efisiensi Energi
-
RAGAM01/04/2026 15:30 WIBTanpa Cuti Bersama, Pekerja Tetap Nikmati Libur Panjang di April 2026
-
PAPUA TENGAH01/04/2026 19:00 WIBDisperindag Mimika Pastikan Stok BBM dan LPG Aman
-
JABODETABEK01/04/2026 22:00 WIBPMJ: Kasus Andrie Yunus Telah Dilimpahkan ke TNI
-
DUNIA01/04/2026 15:00 WIBKiamat Minyak Makin Dekat? Iran Siapkan “Kejutan” Ngeri di Bab Al Mandab
-
NUSANTARA01/04/2026 17:30 WIBGunakan Mobil Dinas untuk Keperluan Pribadi, Bupati Blora Copot Plt Sekwan