Connect with us

EKBIS

Rupiah Menguat Usai Dolar AS Melemah

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto: aktualitaas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tajam pada perdagangan Rabu, (8/4/2026). Penguatan rupiah dipicu oleh pelemahan dolar global setelah muncul kabar gencatan senjata terkait konflik Iran.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.06 WIB di pasar spot exchange, rupiah melesat 110 poin atau 0,64 persen ke posisi Rp16.995 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat turun 0,96 persen ke level 98,9.

Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka lebih kuat di level Rp16.970 per dolar AS, atau terapresiasi sekitar 0,70 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya pada Selasa (7/4/2026) yang berada di posisi Rp17.090 per dolar AS.

Berdasarkan data pasar uang pada Rabu pagi, rupiah bahkan sempat menguat hingga 120 poin atau 0,70 persen ke level Rp16.985 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.105 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi seiring dengan tren positif mata uang di kawasan Asia. Hingga pukul 09.01 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 1,7 persen.

Diikuti oleh baht Thailand yang naik 1,44 persen, peso Filipina 1,31 persen, serta ringgit Malaysia yang menguat 1 persen.

Selain itu, yen Jepang turut menguat 0,8 persen, sementara dolar Singapura dan dolar Taiwan masing-masing naik 0,59 persen dan 0,56 persen. Yuan China juga tercatat menguat 0,45 persen, sedangkan dolar Hong Kong naik tipis 0,04 persen terhadap dolar AS.

Sejumlah analis menilai penguatan rupiah dipicu oleh melemahnya indeks dolar AS di pasar global serta respons positif investor terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia.

Selain itu, kenaikan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia turut memberikan dukungan fundamental bagi penguatan nilai tukar rupiah.

Dari sisi global, pasar merespons positif perkembangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan Iran.

Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur sipil Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Namun menjelang tenggat waktu, muncul kabar adanya kesepakatan jeda konflik setelah usulan mediasi diplomatik yang diajukan oleh pemerintah Pakistan.

Iran juga dilaporkan bersedia membuka kembali jalur vital Selat Hormuz selama dua minggu dengan syarat seluruh serangan dihentikan. Israel disebut turut menyetujui gencatan senjata tersebut.

Situasi ini mendorong pelaku pasar beralih kembali ke aset berisiko dan menekan permintaan terhadap dolar AS yang selama ini berperan sebagai aset safe haven.

Meski rupiah menunjukkan tren penguatan, pelaku pasar tetap diimbau untuk mewaspadai potensi volatilitas menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat pada akhir pekan ini.

Bank Indonesia diperkirakan akan tetap aktif berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi nasional. (Firmansyah/Mun)

TRENDING

Exit mobile version