JABODETABEK
Tekan Risiko Kecelakaan di Perlintasan, Underpass Dianggap Lebih Realistis
AKTUALITAS.ID – Untuk mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang, pembangunan jalan bawah tanah (underpass) dinilai lebih realistis dibandingkan jalur layang (flyover).
Hal tersebut diungkapkan Pengamat transportasi, Ki Darmaningtyas di Jakarta, Senin (4/5/2026).
“Kalau ada dananya, mungkin lewat underpass lebih baik,” kata Darmaningtyas.
Menurut dia, pembangunan jalur layang membutuhkan biaya besar, sehingga sulit direalisasikan secara luas.
Sebagai alternatif, ia menyarankan pembangunan underpass yang dinilai lebih memungkinkan secara pembiayaan dan implementasi.
“Memang pemerintah perlu menambah tempat penyeberangan untuk perlintasan sebidang itu,” ucapnya.
Selain faktor infrastruktur, Darmaningtyas kembali mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan perlintasan secara aman.
Menurut dia, pembangunan fisik harus dibarengi dengan edukasi agar masyarakat tidak melanggar aturan.
Ia menilai keberadaan perlintasan liar tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah, karena banyak yang muncul akibat kebutuhan akses masyarakat atau pengembangan kawasan.
“Pemerintah tetap perlu melakukan pengawasan yang konsisten,” ucap dia.
Dengan demikian, Darmaningtyas menegaskan bahwa kombinasi antara pembangunan underpass, pengawasan, dan edukasi masyarakat menjadi kunci untuk menekan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan di tahun 2026, tercatat sebanyak 40 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang.
Mayoritas insiden (57,5 persen) terjadi di perlintasan tanpa palang pintu sebanyak 23 kejadian, sementara 17 kejadian lainnya (42,5 persen) terjadi di perlintasan berpalang pintu.
Pemicu utama kecelakaan didominasi oleh perilaku pengendara yang menerobos (34 kasus), diikuti kendaraan mogok (4 kasus), dan keterlambatan penutupan palang pintu (3 kasus). Dampak kecelakaan ini sangat fatal, merenggut 25 nyawa (61 persen), serta menyebabkan 5 luka berat (12 persen) dan 11 luka ringan (27 persen).
Adapun kendaraan yang terlibat meliputi 22 mobil (55 persen) dan 18 sepeda motor (45 persen).
Selanjutnya, sebagai penyebab kejadian mogok di perlintasan adalah (1) mobil berhenti mati mesin di perlintasan, (2) roda ban belakang motor tersangkut karena membawa beban bawaan berat dagangan, seperti ayam, (3) mobil mengalami gangguan mesin saat berada di tengah rel, dan (4) truk lowdeck tersangkut karena elevasi gradien di perlintasan tidak sesuai dengan truk.
(Ari Wibowo/goeh)
-
FOTO04/05/2026 08:19 WIBFOTO: Kepala BNN Main Padel Bareng Raffi Ahmad
-
JABODETABEK04/05/2026 05:30 WIBBMKG: Jakarta Diguyur Hujan Senin 4 Mei 2026
-
OASE04/05/2026 05:00 WIBNabi Muhammad Sebut Yaman Negeri Penuh Iman
-
POLITIK03/05/2026 22:30 WIBPenentuan Ambang Batas Parlemen Melalui Dialog dan Kajian
-
OLAHRAGA03/05/2026 23:00 WIBPersik Kediri Berhasil Kalahkan Arema 3-2
-
NUSANTARA04/05/2026 08:30 WIBPendiri Ponpes di Pati Resmi Tersangka Pemerkosaan Puluhan Santriwati
-
NUSANTARA04/05/2026 07:30 WIBBMKG Ungkap Daerah Rawan Cuaca Ekstrem di Banten
-
PAPUA TENGAH04/05/2026 00:01 WIBKoops TNI Habema Gelar Bhakti Pertiwi Hardiknas 2026 di SDN 1 Pomako