Connect with us

NASIONAL

Bukan Marxisme, Bin Bin Firman: Pancasila Adalah Jiwa dan Praksis Sosialisme Indonesia

Aktualitas.id -

Dewan Pembina Nalar Bangsa Institut, Bin Bin Firman Tresnadi, Foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Perdebatan mengenai ideologi sosialisme di Indonesia seringkali terjebak dalam kesalahpahaman sejarah. Sosialisme kerap dibenturkan dengan Pancasila, padahal keduanya memiliki hubungan yang tak terpisahkan.

Dewan Pembina Nalar Bangsa Institut, Bin Bin Firman Tresnadi, menegaskan bahwa Pancasila sejatinya adalah jiwa dari Sosialisme Indonesia. Menurutnya, pandangan yang menempatkan sosialisme sebagai ideologi “asing” yang bertentangan dengan Pancasila adalah kekeliruan fatal.

“Sosialisme Indonesia bukan salinan Marxisme Eropa, bukan pula sosial-demokrasi liberal ala Barat. Ia adalah sosialisme berkarakter nasional, yang menempatkan Pancasila sebagai fondasi etis, politik, dan ekonomi,” ujar Bin Bin dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (6/1/2026).

Bukan Ateistik, Tapi Bermoral

Bin Bin menjelaskan bahwa Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi koreksi mendasar terhadap sosialisme ateistik. Dalam kerangka Indonesia, keadilan sosial bukan sekadar teknik ekonomi, melainkan kewajiban moral dan amanah Tuhan.

“Kekayaan dan sumber daya alam bukan hak absolut individu atau korporasi, melainkan amanah sosial. Dengan demikian, sosialisme Indonesia adalah sosialisme bermoral,” tegasnya.

Ia juga menyoroti Sila Kemanusiaan dan Persatuan sebagai antitesis dari konflik kelas yang destruktif. Sosialisme Indonesia menolak dehumanisasi buruh sekaligus menolak balas dendam kelas yang memecah belah bangsa.

Era Prabowo dan Negara Kesejahteraan

Dalam konteks kekinian, Bin Bin menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat dibaca sebagai kelanjutan praksis negara kesejahteraan (welfare state) yang berwatak nasionalistik-kerakyatan.

Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis sebagai praktik konkret sosialisme di mana negara menjamin hak dasar biologis rakyat tanpa logika profit.

“Negara tidak menunggu rakyat ‘mampu membeli’, tetapi hadir aktif menjamin kebutuhan dasar. Ini merupakan pengejawantahan langsung sila ke-5 Pancasila,” jelas Bin Bin.

Selain itu, penekanan pada swasembada pangan, energi, dan penguatan BUMN menunjukkan ciri utama sosialisme Indonesia, yakni negara tidak netral dalam pasar bebas, melainkan berpihak aktif pada kemakmuran rakyat (state-led development).

Pancasila dan Sosialisme Tak Terpisahkan

Menutup analisisnya, Bin Bin menekankan bahwa memperjuangkan Pancasila secara konsekuen berarti memperjuangkan Sosialisme Indonesia yang berdaulat.

“Pancasila adalah ideologi sosialisme Indonesia. Sosialisme tanpa Pancasila kehilangan akar dan legitimasi. Sebaliknya, Pancasila tanpa sosialisme kehilangan daya praksis dan keberpihakannya dalam mewujudkan keadilan sosial,” pungkasnya. (Mun)

TRENDING