Connect with us

NASIONAL

Jubir: Ceramah JK Soal Syahid Disalahartikan

Aktualitas.id -

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Potongan video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), mendadak viral di media sosial dan memicu polemik. Video tersebut disertai narasi yang menuding JK telah menistakan ajaran agama tertentu terkait penggunaan istilah “mati syahid” dalam konteks konflik masa lalu.

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan bahwa tuduhan penistaan agama tersebut sama sekali tidak berdasar. Menurutnya, kegaduhan ini muncul akibat pemotongan durasi video yang menghilangkan konteks asli dari ceramah tersebut.

Husain menjelaskan bahwa pernyataan tersebut disampaikan JK saat mengisi ceramah di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (5/3/2026). Dalam forum tersebut, JK sedang membahas sejarah dan realitas sosiologis saat pecahnya konflik Poso dan Ambon puluhan tahun silam.

“Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, benar terjadi bahwa kedua belah pihak sama-sama menyerukan ‘perang suci’ dan mengklaim membunuh lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid. Itu fakta sejarah, bukan pendapat pribadi Pak JK,” ujar Husain di Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Husain menekankan bahwa JK tidak sedang membahas masalah teologi atau ajaran agama, melainkan membedah psikologi massa saat konflik bernuansa SARA tersebut menewaskan ribuan orang.

Lebih lanjut, Husain memaparkan bahwa tujuan utama JK menyinggung hal tersebut justru untuk meluruskan pemahaman yang keliru. Saat mendamaikan kedua pihak di masa lalu, JK secara konsisten mengingatkan bahwa pembunuhan membabi buta bukanlah jalan menuju surga.

“Pak JK justru mengubah pemahaman kedua pihak, bahwa apa yang mereka lakukan bukan perang suci. Membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua adalah perbuatan yang melanggar nilai kemanusiaan dan cinta kasih. Beliau menegaskan itu bukan jalan ke surga, melainkan neraka bagi mereka yang membunuh tanpa alasan jelas,” tambah Husain.

Kritik tajam JK terhadap klaim “syahid” atau “perang suci” di tengah konflik saat itu justru menjadi pintu masuk bagi terciptanya jalur damai. Upaya mediasi yang dilakukan JK akhirnya membuahkan hasil melalui Perundingan Malino I (2001) dan Malino II (2002) di Sulawesi Selatan.

Kesepakatan damai yang dikenal sebagai Deklarasi Malino tersebut berhasil mengakhiri konflik berdarah yang telah berlangsung bertahun-tahun dan mengembalikan stabilitas di wilayah Poso serta Ambon.

Pihak JK mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh potongan video pendek di media sosial yang sengaja disebarkan tanpa konteks utuh untuk tujuan tertentu. (Firmansyah/Mun)

TRENDING