PAPUA TENGAH
Sidak SPBU, Pertamina dan Disperindag Pastikan BBM Subsidi Benar-benar Dinikmati Masyarakat
AKTUALITAS.ID – Tim gabungan dari Pertamina Patra Niaga Regional II Papua Tengah bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika melancarkan inspeksi mendadak (sidak) besar-besaran, Rabu (18/3/2026).
Langkah agresif ini menjadi barikade terakhir untuk memastikan tidak ada satu tetes pun BBM subsidi yang “bocor” ke tangan oknum pemburu rente di saat rakyat jelata lebih membutuhkan.
Operasi kilat ini menyasar empat titik urat nadi distribusi di Mimika: SPBU 01 (Nawaripi), SPBU 02 (SP 2), SPBU 03 (Hasanuddin), dan SPBU 04 (Kilo 8).
Di bawah sengatan matahari yang memanggang kawasan SP 2, petugas bergerak taktis.
Mereka mencegat kendaraan di barisan antrean, mengadu kecocokan barcode subsidi dengan pelat nomor kendaraan secara real-time. Tidak ada ruang untuk kompromi; satu ketidakcocokan berarti penolakan.
Sales Branch Manager (SBM) Rayon II Papua Tengah, Junaedi Kala, menegaskan bahwa aturan ini adalah harga mati. Mengacu pada Keputusan BPH Migas Nomor 64 Tahun 2023, pengawasan ini bukan sekadar formalitas, melainkan mandat undang-undang.
“Jika barcode berbeda dengan pelat kendaraan, BBM tidak boleh diisi. SPBU yang nekat melanggar akan kami berikan sanksi pembinaan berupa penutupan operasional selama 14 hari,” tegas Junaedi saat ditemui wartawan.
Dalam ketegangan sidak tersebut, Junaedi turut membongkar miskonsepsi publik mengenai jenis bahan bakar yang didanai negara.
Ia mempertegas garis demarkasi antara Biosolar sebagai subsidi murni yang dipatok dalam APBN sejak awal tahun, dan Pertalite yang masuk dalam kategori kompensasi.
Meski fokus utama tertuju pada Biosolar, pengawasan terhadap Pertalite tidak kendor sedikit pun.
Mengingat lonjakan konsumsi kendaraan pribadi saat Lebaran bakal menggila, ketersediaan stok menjadi prioritas absolut.
Untuk SPBU SP 2 sendiri, angka konsumsi mencapai 7.000 liter per hari, yang hingga detik ini dilaporkan masih dalam zona aman.
Kepala Disperindag Kabupaten Mimika, drh. Sabelina Fitriani, melontarkan peringatan keras yang bergetar di telinga para pemilik kendaraan, terutama truk-truk besar.
Ia mencium aroma risiko pembelian berulang demi keuntungan pribadi di tengah bayang-bayang kelangkaan yang sengaja diciptakan.
“Manfaat barcode ini adalah benteng kita. Jangan sampai ada oknum yang membeli berulang-ulang untuk dijual kembali di pinggir jalan dengan harga selangit. Itu sangat merugikan rakyat kecil,” ujar Sabelina dengan nada bicara serius.
Sabelina juga menyoroti fenomena “cekik leher” harga di tingkat pengecer yang kerap terjadi setiap kali hari raya tiba.
“Kalau di luar dijual Rp12.000, lebih baik warga beli Pertamax sekalian. Kami ingin memastikan masyarakat Mimika bisa merayakan hari raya dengan tenang tanpa harus pusing memikirkan kelangkaan BBM.”
Sebagai bentuk keseriusan, Disperindag telah menyebar personel khusus untuk “menjaga pintu” di empat SPBU utama Mimika.
Operasi ini dipastikan bukan sekadar seremoni musiman. Evaluasi berkala akan terus dilakukan untuk memutus total mata rantai penyalahgunaan BBM subsidi di Bumi Amungme.
(Ahmad/goeh).
-
RIAU17/03/2026 19:13 WIBKapolri Resmikan Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
-
PAPUA TENGAH17/03/2026 19:00 WIBTragedi di Jalan Yos Soedarso Timika, Satu Nyawa Melayang Usai Insiden Tabrakan Pagi Buta
-
DUNIA17/03/2026 21:30 WIBTabrakan Kapal Nelayan dan Kargo, Empat Orang Meninggal Dunia
-
NASIONAL18/03/2026 00:31 WIBKapolri Resmikan Masjid Al-Adzim Polda Riau, Perkuat Community Policing Lewat Satgas PHK dan Ojol
-
RAGAM17/03/2026 19:30 WIBOutfit Nyaman dan Bergaya di Momen Idul Fitri
-
NUSANTARA17/03/2026 22:00 WIBInsiden Ledakan Masjid di Jember, Polisi Temukan Bahan Kimia
-
EKBIS17/03/2026 20:30 WIBMenkeu: Pasar Tradisional Tidak Mati Suri
-
NUSANTARA18/03/2026 00:01 WIBMacet Puluhan Kilometer di Gilimanuk, Inidia Biang Keroknya

















