Connect with us

POLITIK

Pengamat: Reshuffle Kabinet Momentum Prabowo Akhiri Fenomena ‘Matahari Kembar’

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto: aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Wacana perombakan atau reshuffle kabinet di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menguat. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut bukan sekadar rutinitas politik, melainkan bagian dari strategi konsolidasi kekuasaan di dalam pemerintahan.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menyebut Presiden Prabowo disebut telah mengantongi sejumlah nama menteri yang dinilai memiliki kinerja buruk maupun tidak menunjukkan loyalitas politik yang jelas.

“Prabowo sudah mengantongi nama-nama yang kinerjanya buruk dan yang tidak loyal. Ini bukan lagi fase kompromi, tapi fase penegasan otoritas,” ujar Amir, Rabu (8/4/2026).

Menurut Amir, ada tiga indikator utama yang menjadi dasar evaluasi dalam reshuffle kabinet. Pertama, kinerja kementerian yang dinilai tidak optimal. Kedua, ketidaksinkronan kebijakan kementerian dengan visi presiden. Ketiga, loyalitas politik yang dinilai tidak sepenuhnya berada dalam satu garis komando.

Ketiga faktor tersebut, kata Amir, menjadi parameter penting dalam menentukan siapa menteri yang akan dipertahankan dan siapa yang berpotensi diganti.

Ia juga menilai pernyataan Presiden Prabowo sebelumnya yang menyebut publik diminta “menunggu saja” terkait evaluasi kabinet merupakan sinyal politik yang terukur.

“Pernyataan ‘tunggu saja’ itu bukan spontan. Itu sinyal bahwa proses evaluasi sudah selesai atau hampir selesai. Presiden tinggal mengeksekusi,” jelasnya.

Dalam analisisnya, reshuffle kabinet bukan hanya soal evaluasi kinerja, tetapi juga langkah strategis untuk menata ulang peta loyalitas di lingkaran kekuasaan.

Amir bahkan menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “matahari kembar” di dalam Kabinet Merah Putih. Istilah tersebut merujuk pada situasi di mana sejumlah menteri dinilai memiliki kedekatan politik ganda, baik kepada Presiden Prabowo maupun kepada presiden sebelumnya, Joko Widodo.

Menurutnya, kondisi loyalitas yang terbelah dapat menjadi kerentanan dalam sistem pemerintahan.

“Dalam perspektif intelijen, loyalitas yang terbelah itu adalah kerentanan. Ini bisa menghambat pengambilan keputusan strategis dan membuka ruang tarik-menarik kepentingan di dalam kabinet,” katanya.

Meski demikian, Amir menilai Presiden Prabowo kemungkinan telah mempertimbangkan berbagai risiko politik yang mungkin muncul dari langkah perombakan kabinet.

Dengan latar belakang militer dan pengalaman panjang di dunia politik, Prabowo diyakini memahami momentum yang tepat untuk melakukan reshuffle.

“Ini seperti operasi bedah. Jika berhasil, tubuh pemerintahan akan lebih sehat. Tetapi jika tidak hati-hati, bisa memicu resistensi politik,” ujarnya.

Sejumlah pengamat menilai reshuffle kabinet dalam waktu dekat dapat menjadi titik penting dalam fase konsolidasi pemerintahan Prabowo, terutama untuk memastikan seluruh jajaran kabinet berjalan dalam satu arah kebijakan dan komando politik yang sama. (Bowo/Mun)

TRENDING