Connect with us

DUNIA

Israel Bersiap Hadapi Pertempuran Baru di Gaza Meski Ada Gencatan Senjata

Aktualitas.id -

PM Israel Benjamin Netanyahu meminta militer untuk memobilisasi tentara cadangan dalam persiapan serangan darat di Kota Rafah, Jalur Gaza selatan, Palestina. (Reuters)

AKTUALITAS.ID – Situasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali berada di titik rawan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dilaporkan telah memerintahkan militer Israel untuk bersiap menghadapi kemungkinan pertempuran sengit di Jalur Gaza, Palestina.

Langkah ini muncul di tengah proses gencatan senjata sementara dan perundingan menuju perdamaian permanen yang saat ini masih berlangsung dengan mediasi Amerika Serikat. Meski demikian, sinyal eskalasi kembali mencuat dari pihak keamanan Israel.

Laporan Al Jazeera yang mengutip The Jerusalem Post menyebutkan bahwa aparat keamanan Israel sejauh ini belum menerima instruksi resmi dari pimpinan politik terkait pembukaan kembali pos perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir.

Seorang sumber keamanan Israel mengatakan, peluang pelonggaran akses barang dan bantuan ke Jalur Gaza saat ini sangat kecil. Menurutnya, langkah tersebut dapat dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap proses rekonstruksi Gaza, sementara tuntutan utama Israel belum dipenuhi.

Tuntutan tersebut mencakup pengembalian jenazah Sersan Mayor Ran Gvili, yang disebut sebagai tawanan Israel terakhir, serta demiliterisasi Jalur Gaza dan pelucutan senjata Hamas.

Pejabat Israel berulang kali menegaskan bahwa setiap pelonggaran pembatasan di Gaza akan bergantung pada kemajuan signifikan dalam isu-isu tersebut. Hingga kini, belum ada kesepakatan konkret yang memenuhi syarat tersebut.

Konflik Israel–Hamas di Jalur Gaza telah berlangsung selama bertahun-tahun dan ditandai dengan serangan udara Israel serta tembakan roket dari Hamas, yang menimbulkan korban di kedua belah pihak.

Di sisi lain, Jalur Gaza menghadapi krisis kemanusiaan berat akibat blokade berkepanjangan, rusaknya infrastruktur, serta terbatasnya akses bantuan internasional. Sejak Mei 2024, militer Israel menutup akses keluar-masuk warga Palestina melalui perlintasan Rafah.

Padahal, Rafah merupakan satu-satunya pintu masuk dari Mesir ke Gaza yang memungkinkan pergerakan pekerja kemanusiaan dan truk bantuan, termasuk pasokan makanan, obat-obatan, logistik medis, dan bahan bakar.

Di wilayah yang kerap mengalami pemadaman listrik dan kekurangan air bersih, keberadaan perlintasan Rafah menjadi penentu kelangsungan hidup jutaan warga Gaza. Ketidakpastian nasib perbatasan ini pun memperbesar kekhawatiran akan memburuknya kondisi kemanusiaan jika konflik kembali memanas. (Mun)

TRENDING