RAGAM
Dampak Buruk Kesehatan Anak, Bila Penggunaan Gawai Berlebihan
AKTUALITAS.ID – Penggunaan gawai secara berlebihan dan tanpa pengawasan dalam jangka panjang dapat meningkatkan peluang munculnya masalah postur tubuh, otot, dan fungsi saraf pada anak, yang dalam beberapa bertahan sampai anak tumbuh dewasa.
Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tuty Herawati menyampaikan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada kesehatan anak.
“Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan,” katanya dalam acara buka bersama Menteri Komunikasi dan Digital yang dilaksanakan di Jakarta pada Selasa kemarin.
Dia menjelaskan bahwa paparan gawai berlebihan pada fase krusial pertumbuhan anak, dari umur lima sampai 15 tahun, bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak, sebagaimana Sebagaimana dikutip dalam keterangan pers pemerintah pada Rabu (18/3/2026).
Menurut Tuty, risiko gangguan tumbuh kembang anak akibat penggunaan gawai secara berlebihan bergantung pada intensitas dan durasi pemakaian gawai serta keseimbangan penggunaan gawai dengan aktivitas yang lain.
Peluang munculnya gangguan tumbuh kembang pada anak yang tetap aktif secara fisik, punya cukup waktu untuk bermain di luar ruangan, serta mengikuti kegiatan olahraga diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan anak yang terus-menerus menggunakan gawai.
Tuty menyampaikan bahwa penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas dapat memperkuat upaya untuk melindungi anak dari dampak negatif penggunaan perangkat teknologi digital.
Ia menyatakan, penerapan peraturan itu bisa berdampak optimal bagi kebaikan anak kalau keluarga secara aktif mendukungnya dengan mengatur, mendampingi, dan mengawasi penggunaan gawai anak.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog mengatakan bahwa otak anak punya kemampuan untuk menyerap informasi secara optimal.
“Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi,” katanya.
Menurut dia, kurangnya variasi stimulasi terhadap otak anak bisa menyebabkan perkembangan otak tidak optimal, menimbulkan kondisi yang disebut brain drop.
Konten digital seperti gim atau tayangan yang berulang dapat membuat anak hanya terpaku pada satu jenis rangsangan, sehingga mengabaikan potensi pengembangan kemampuan lain.
“Yang membuat otak berkembang bukan ukuran, tetapi banyaknya koneksi antar-saraf. Koneksi itu terbentuk dari variasi pengalaman dan stimulasi,” kata Prof. Rose.
“Anak perlu pengalaman yang beragam agar koneksi otaknya berkembang optimal. Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi,” ia menjelaskan.
(Purnomo/goeh)
-
EKBIS19/03/2026 22:00 WIBAntisipasi Kemacetan di Jalur Mudik, 95 SPBU Modular Disiagakan
-
NUSANTARA20/03/2026 13:30 WIBPuncak Arus Mudik di Jalur Nagreg Sudah Terlewati
-
JABODETABEK19/03/2026 22:30 WIBJasamarga Tambah Jalur Contraflow di Tol Japek
-
RAGAM20/03/2026 14:00 WIBWijaya 80 dan Sal Priadi Rilis Single “Bulan Bintang-Garis Menyilang”
-
NUSANTARA19/03/2026 23:00 WIBSelama Nyepi Berlangsung, Ratusan Pecalang Desa Adat Tuban Berpatroli
-
OASE20/03/2026 05:00 WIBAlasan Mengapa Rukyatul Hilal Bersifat Lokal, Bukan Global
-
OLAHRAGA20/03/2026 06:00 WIBRachel/Febi Lolos ke Perempat Final Orleans Masters
-
NUSANTARA20/03/2026 15:30 WIBLedakan Petasan Mengakibatkan Satu Orang Tewas di Semarang

















