RAGAM
Awas, Ini Risiko Penderita Asam Urat saat Santap Makanan Khas Lebaran
AKTUALITAS.ID – Lemak jenuh dari santan mengganggu kerja hormon insulin. Sodium dari bumbu dan kuah meningkatkan tekanan darah secara akut.
Belum lagi minimnya serat tidak mampu memperlambat laju penyerapan semua zat tersebut.
Pakar gizi klinik yang juga dosen di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tirta Prawita Sari mengingatkan risiko yang bisa dihadapi pasien asam urat saat menyantap makanan khas Lebaran seperti sambal goreng ati hingga opor.
“Penderita asam urat yang mengonsumsi sambal goreng ati, yang padat purin, rentan mengalami serangan gout (salah satu radang sendi) akut, terutama bila kurang minum air putih,” kata dia dalam keterangan di Jakarta, Jumat (20/3/2026).
Tirta mengatakan, satu sajian khas Lebaran misalnya ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan beberapa keping nastar mengandung sekitar 1.390 kkal, hampir setara total kebutuhan kalori harian sebagian orang dewasa.
Lebih dari 60 persen kalorinya berasal dari lemak jenuh santan, sementara kandungan sodiumnya mencapai sekitar 2.035 mg, nyaris menyentuh batas harian yang direkomendasikan WHO sebesar 2.000 mg, hanya dari satu kali makan.
Adapun serat yang tersedia hanya sekitar lima gram, jauh di bawah kebutuhan 25–30 gram per hari.
Yang lebih mengkhawatirkan, hampir semua jalur metabolik utama mendapat tekanan dalam waktu bersamaan. “Ketupat dan lontong memiliki indeks glikemik sangat tinggi (85–90) sehingga gula darah melonjak cepat,” kata dia.
Tirta mengatakan, pasien tekanan darah tinggi atau hipertensi berisiko mengalami kenaikan tekanan darah sistolik 5–10 mmHg dalam hitungan jam akibat beban sodium.
Di sisi lain, pasien penyakit ginjal kronis (CKD) pun perlu ekstra waspada, karena satu kali makan Lebaran sudah melampaui batas sodium yang diperbolehkan sekaligus mengandung fosfor dan kalium yang berbahaya bagi ginjal yang terganggu.
“Satu porsi makan Lebaran itu seperti menekan semua tombol bahaya sekaligus (gula, lemak, garam dan asam urat) dalam satu waktu. Itulah yang membuat risiko metaboliknya sangat nyata, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu,” kata Tirta.
(Ari Wibowo/goeh)
-
Berita13/09/2026 23:00 WIBPolres Metro Jakarta Pusat Ungkap Peredaran 5,2 Kilogram Sabu di Cengkareng
-
DUNIA14/09/2026 00:00 WIBHouthi Kuasai Bab al-Mandeb, Dunia Panik
-
DUNIA13/09/2026 21:00 WIBPresiden Iran Siap Lawan AS-Israel
-
JABODETABEK13/09/2026 20:00 WIBBibir Robek! Pemotor Wanita Mengaku Dipukul Ojol Usai Tabrakan di Depok
-
JABODETABEK13/09/2026 22:00 WIBAnak Tengah Pembunuh Sekeluarga Divonis Seumur Hidup
-
NASIONAL14/09/2026 06:00 WIBSepekan Laut Membisu, Jakarta Gelar Panggung Doa untuk 5 Jurnalis Hilang
-
EKBIS14/09/2026 11:45 WIBPemerintah Ketok Palu Tarif Listrik PLN 14–20 September 2026
-
NASIONAL14/09/2026 10:00 WIBPDIP Desak Polisi Jerat Otak Kerusuhan Pakai KUHP Baru

















