Connect with us

OLAHRAGA

Era Baru AI: Virus Kini Bisa Dirancang di Laboratorium

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memasuki babak baru yang sekaligus membuka peluang besar dan menghadirkan risiko serius.

Para ilmuwan berhasil menggunakan AI untuk membantu merancang genom virus yang kemudian dibuat dan diuji di laboratorium. Terobosan ini dinilai dapat membuka jalan baru dalam pengembangan terapi berbasis virus, tetapi pada saat yang sama memicu pertanyaan besar tentang keselamatan dan keamanan biologis.

Penelitian tersebut berfokus pada bakteriofag, yaitu virus yang secara khusus menginfeksi bakteri. Bakteriofag telah lama menjadi perhatian ilmuwan sebagai salah satu pendekatan potensial untuk menghadapi infeksi bakteri tertentu.

Dalam penelitian, virus yang dirancang dengan bantuan AI diuji terhadap bakteri E. coli yang memiliki resistensi terhadap bakteriofag alami. Hasilnya menunjukkan adanya kemampuan virus hasil rancangan tersebut untuk menyerang bakteri target.

BACA JUGA  Apakah Virus HMPV Berbahaya Seperti Covid-19?

AI Mulai Menyentuh Kode Genetik

Penelitian yang melibatkan insinyur kimia Universitas Stanford, Dr. Brian Hie, menggunakan model AI yang dikembangkan untuk memahami pola dalam data genetik.

Model tersebut dilatih menggunakan data genetik dalam jumlah besar dari bakteriofag. Para peneliti juga sengaja membatasi cakupan data agar tidak mencakup virus yang menginfeksi manusia, hewan, atau tumbuhan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa para peneliti menyadari adanya risiko ketika teknologi AI digunakan dalam bidang biologi.

Menurut para peneliti, kemampuan AI untuk membantu merancang genom secara cepat berpotensi memperluas pemanfaatan bakteriofag dalam penelitian dan terapi.

Namun, kemampuan tersebut sekaligus menciptakan persoalan baru: bagaimana memastikan teknologi yang semakin kuat tidak digunakan untuk tujuan berbahaya?

Terobosan Sains Sekaligus Alarm Keamanan

Kekhawatiran terhadap penelitian ini tidak hanya datang dari pihak luar. Sejumlah pakar keamanan kesehatan ikut menyoroti perkembangan tersebut.

BACA JUGA  Hadir di IGF Kyoto 2023, Wamenkominfo: Perlu Kebijakan AI Hingga Level Praktis

Prof. Tom Inglesby dan Dr. Moritz Hanke dari Johns Hopkins Center for Health Security menilai kemampuan AI generatif dalam membantu penyusunan genom virus sudah menjadi kenyataan.

Masalahnya, perkembangan teknologi dinilai bergerak lebih cepat dibandingkan sistem tata kelola yang mengawasinya.

Dengan kata lain, dunia kini menghadapi persoalan baru: AI sudah semakin mampu membantu pekerjaan biologi tingkat lanjut, sementara aturan keselamatan dan keamanan belum tentu berkembang dengan kecepatan yang sama.

Risiko Tak Cukup Diatur dari Sisi AI

Pakar keamanan internasional dari King’s College London, Dr. Filippa Lentzos, menilai pengawasan tidak seharusnya hanya diarahkan kepada model AI.

Menurutnya, keamanan perlu dibangun secara berlapis, mulai dari pengembangan teknologi, akses terhadap model, penilaian risiko penelitian, hingga pengawasan proses sintesis DNA dan standar keselamatan laboratorium.

BACA JUGA  Daftar 10 AI Gratis Pembuat Presentasi Terbaik 2026, Mudah dan Cepat

Pendekatan tersebut penting karena risiko biologis tidak berhenti pada kemampuan sebuah model AI menghasilkan rancangan.

Ada rangkaian proses lain yang juga membutuhkan pengawasan ketat.

Manfaat Besar, Risiko Juga Besar

Perkembangan ini memperlihatkan paradoks baru dalam revolusi AI.

Di satu sisi, AI berpotensi mempercepat penelitian biologi dan membantu ilmuwan menghadapi masalah seperti resistensi bakteri.

Di sisi lain, kemampuan AI dalam memahami dan merancang informasi biologis dapat menimbulkan risiko apabila teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah atau digunakan tanpa pengamanan memadai.

Karena itu, tantangan terbesar bukan lagi sekadar seberapa jauh AI mampu merancang sesuatu, tetapi seberapa aman teknologi tersebut dikembangkan, dikendalikan, dan digunakan. (Kusuma/Mun)

TRENDING