Berita
Hasil Riset: Banjir Intai 300 Juta Jiwa
Angkanya meningkat tiga kali lipat lebih dibandingkan perkiraan sebelumnya,
AKTUALITAS.ID – Hasil riset terbaru yang dirilis di Nature Communication mengungkap bahwa 300 juta jiwa di seluruh dunia akan terdampak banjir pada 2050 akibat kenaikan permukaan air laut. Angkanya meningkat tiga kali lipat lebih dibandingkan perkiraan sebelumnya, yakni hanya berdampak pada 80 juta jiwa.
Riset itu mengatakan bahwa 300 juta jiwa akan merasakan banjir setidaknya sekali dalam setahun pada 2050 dan seterusnya. Risiko itu bisa dihindari andaikan terjadi pengurangan emisi karbon secara signifikan dan tanggul pesisir diperkuat.
Revisi atas dampak kenaikan permukaan laut dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian topografi garis pantai yang lebih canggih. Pemutakhiran dilakukan mengingat sistem penilaian sebelumnya menggunakan data satelit NASA yang melebihkan ketinggian daratan lantaran ikut menghitung bangunan tinggi dan pepohonan.
Adapun riset terbaru menggunakan kecerdasan buatan untuk mengompensasikan kesalahan itu. Penulis utama riset ini, Scott Kulp, mengatakan bahwa dirinya bersama para peneliti lain sangat terkejut dengan peningkatan jumlah jiwa terdampak tersebut.
“Penilaian ini menunjukkan potensi perubahan iklim yang bisa mengubah bentuk kota, ekonomi, garis pantai, dan semua wilayah global dalam hidup kita,” kata ilmuan senior di Climate Central itu sebagaimana dikutip dari The Guardian, Rabu (30/10).
Perubahan jumlah jiwa terdampak dari riset terbaru ini terjadi di wilayah Asia, di mana mayoritas populasi dunia menetap di sana. Peningkatan jumlah jiwa terdampak di Bangladesh melonjak delapan kali lipat dibandingkan data sebelumnya. India naik tujuh kali lipat dan China naik tiga kali lipat.
Bagaimana dengan Indonesia? Jumlah terdampak pada 2050 diperkirakan naik dari perkiraan awal lima juta jiwa menjadi 23 juta jiwa. Penelitian ini juga menyebut bahwa Pemerintah Indonesia memutuskan untuk memindahkan Ibu Kota karena banjir semakin rentan di Jakarta.
Benjamin Strauss, kepala ilmuwan dan CEO Climate Central mengatakan, negara lain mungkin perlu mengikuti langkah yang dibuat Indonesia, kecuali tanggul laut diperkuat atau emisi karbon dipangkas.
“Jumlah pembangunan manusia yang luar biasa dan tidak proporsional terjadi di tanah yang datar dan rendah di dekat laut. Kita benar-benar siap menderita,” katanya.
Para penulis dalam riset terbaru ini mengingatkan, hasil riset mereka mungkin saja berada di bawah angka sebenarnya. Sebab, riset itu memproyeksikan adanya pengurangan emisi sesuai dengan Perjanjian Paris.
Tapi dengan kondisi saat ini, di mana negara-negara tak mematuhi perjanjian itu, tentu dampak kenaikan permukaan laut akan lebih mengerikan. Dalam skenario terburuk, di mana lapisan es Antarktika semakin tak stabil, menurut Strauss, maka akan ada 640 juta jiwa terdampak pada tahun 2100.
-
POLITIK17/02/2026 06:00 WIBBamsoet Desak Penataan Ulang Sistem Politik untuk Cegah Korup
-
RIAU17/02/2026 16:00 WIBJelang Imlek dan Ramadan, Dishub Bengkalis Siagakan Lima Armada Roro untuk Layani Lonjakan Arus
-
JABODETABEK17/02/2026 13:30 WIBTiga Pencuri Batik Tulis Rp1,3 Miliar di JCC Senayan Ditangkap Polisi
-
NASIONAL17/02/2026 14:00 WIBKPK Minta Lapor Dewas soal Dugaan Penyidik Minta Rp 10 M Kasus RPTKA
-
NASIONAL17/02/2026 13:00 WIBPDIP Tolak Pengiriman Pasukan ke Gaza tanpa PBB
-
NUSANTARA17/02/2026 08:30 WIBPaman dan Bibi di Surabaya Diduga Aniaya Balita
-
NASIONAL17/02/2026 09:00 WIBSekjen Golkar: Revisi UU KPK Bukan Hanya Inisiatif DPR
-
PAPUA TENGAH17/02/2026 19:15 WIBPatroli Humanis Operasi Damai Cartenz 2026 Perkuat Rasa Aman Warga Sinak

















