DUNIA
Trump Serukan Warga Iran Rebut Institusi Negara
AKTUALITAS.ID – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik didih baru. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan kepada para pengunjuk rasa di Iran untuk “mengambil alih institusi” negara mereka, sembari memberikan sinyal bahwa intervensi Amerika mungkin akan segera terjadi.
Dalam pernyataan berapi-api yang diunggah melalui media sosial Truth Social pada Selasa waktu setempat, Trump menegaskan telah membatalkan seluruh agenda pertemuan dengan pejabat Iran sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap demonstran.
“Bantuan Sedang Dalam Perjalanan”
Trump, yang belakangan ini secara terbuka mempertimbangkan opsi serangan militer, memberikan pesan yang memicu spekulasi luas mengenai langkah AS selanjutnya.
“Para Patriot Iran, TERUS BERPROTES – AMBIL ALIH INSTITUSI ANDA!!! Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar harga yang mahal,” tulis Trump.
Ia menambahkan peringatan keras kepada rezim Teheran: “Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN. MIGA!!! (MAGA).”
Saat dikonfirmasi wartawan mengenai maksud frasa “bantuan sedang dalam perjalanan”, Trump menolak memberikan rincian taktis. “Anda harus mencari tahu sendiri. Maaf,” ujarnya singkat.
Tekanan Washington tidak hanya berupa retorika politik. Sehari sebelumnya, Senin, Trump mengumumkan kebijakan ekonomi agresif berupa tarif 25% bagi negara mana pun yang nekat berbisnis dengan Iran.
Seiring dengan memanasnya situasi, Departemen Luar Negeri AS (State Department) pada hari Selasa mengeluarkan peringatan darurat yang meminta seluruh warga negara AS untuk “meninggalkan Iran sekarang juga”.
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump menegaskan kembali bahwa jika pemerintah Iran mengeksekusi para demonstran, AS akan mengambil “tindakan yang sangat keras”. Meski demikian, ia mengakui belum menerima data akurat mengenai jumlah korban jiwa.
Analisis mengenai langkah agresif Trump ini memicu kekhawatiran para pengamat internasional. Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, memperingatkan risiko kekosongan kekuasaan yang berbahaya.
“Rakyat Iran terjebak di antara rezim yang represif dan agresi asing. Jika presiden (Trump) memutuskan melakukan pemenggalan politik di Iran, apa yang akan terjadi setelahnya?” ujar Vaez kepada Al Jazeera.
Ia menilai tidak ada oposisi terorganisir di dalam Iran yang siap mengambil alih kekuasaan. Skenario terburuknya, menurut Vaez, Iran bisa jatuh ke dalam “kekacauan dan perselisihan sipil yang penuh kekerasan” seperti yang terjadi di Libya, Suriah, atau Yaman.
Di lapangan, situasi semakin tak terkendali akibat pemadaman internet yang membatasi informasi. Kelompok hak asasi manusia menyebut ratusan warga sipil tewas, sementara media pemerintah Iran mengklaim lebih dari 100 personel keamanan gugur.
Teheran merespons provokasi AS dengan tuduhan serius. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, menyebut Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu sebagai “pembunuh utama rakyat Iran”.
Sementara itu, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan terus dilakukan oleh sekutu AS, termasuk Prancis dan Qatar, yang telah menjalin komunikasi dengan para pejabat tinggi Iran. (Mun)
-
NASIONAL13/03/2026 22:30 WIBKontraS Ungkap Kronologi Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus
-
NASIONAL13/03/2026 23:33 WIBAndrie Yunus Alami Luka di Wajah dan Dada Akibat Serangan Air Keras
-
JABODETABEK14/03/2026 10:30 WIBDishub DKI Hentikan CFD Jakarta saat Libur Lebaran
-
DUNIA14/03/2026 08:00 WIBPentagon Sebut Mojtaba Khamenei Terluka Usai Jadi Pemimpin Iran
-
NASIONAL14/03/2026 07:00 WIBKader PKB Syamsul Auliya Ditangkap KPK dalam OTT Proyek Pemkab Cilacap
-
NASIONAL14/03/2026 09:00 WIBPRIMA Kecam Keras Dugaan Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS
-
NUSANTARA14/03/2026 08:30 WIBBMKG: Eks-Siklon Nuri Picu Potensi Hujan Lebat di Indonesia
-
NASIONAL14/03/2026 14:00 WIBMenag: Umat Islam Dua Kali Rugi Jika Boikot Produk Pro-Israel

















