EKBIS
Mata Uang Iran Ambruk ke Titik Nadir, US$ 1 Tembus 1,42 Juta Rial
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar mata uang nasional Iran, rial, kembali mencetak rekor terendah dan praktis kehilangan nilai terhadap mata uang utama dunia. Pada perdagangan terbaru, US$1 setara sekitar 1,427 juta rial, menandai krisis ekonomi Iran yang semakin dalam dan berdampak luas ke kehidupan masyarakat.
Mengutip laporan Times Now News, di pasar bebas Iran nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) diperdagangkan di kisaran 1.429.500 rial per dolar. Sementara itu, 1 euro setara sekitar 1.668.500 rial, berdasarkan data kurs real time dari Bonbast.com.
Anjloknya nilai tukar rial telah membuat warga Iran kesulitan memenuhi kebutuhan paling mendasar. Krisis mencapai titik kritis pada akhir Desember 2025, ketika pelemahan tajam mata uang memicu lonjakan harga barang impor strategis seperti gandum, minyak goreng, dan bahan baku obat-obatan.
Kenaikan biaya impor tersebut langsung dibebankan kepada konsumen, sehingga mendorong inflasi meluas dan menekan daya beli masyarakat. Situasi ini diperparah oleh kekeringan berkepanjangan yang melumpuhkan produksi pangan domestik, membuat Iran semakin bergantung pada impor.
Tekanan ekonomi memicu gelombang protes yang pertama kali muncul di Teheran, dipelopori pedagang dan pemilik toko yang menuding pemerintah gagal mengelola perekonomian. Memasuki awal Januari 2026, aksi unjuk rasa menyebar ke berbagai wilayah di Iran.
Mahasiswa, buruh, dan kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang turut turun ke jalan. Tuntutan mereka tidak hanya berkaitan dengan perbaikan kondisi ekonomi, tetapi juga menyerukan perubahan sistem pemerintahan yang selama ini dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Berbeda dengan gelombang protes sebelumnya, demonstrasi kali ini dipicu terutama oleh tekanan ekonomi. Pada aksi-aksi terdahulu, pemicu umumnya bersifat sosial atau politik, seperti kasus Mahsa Amini pada 2022 yang terkait aturan hijab.
Inflasi yang tak terkendali dan runtuhnya nilai rial kini menghantam hampir seluruh keluarga Iran, tanpa memandang kelas sosial maupun afiliasi politik. Pelemahan mata uang ini telah berlangsung bertahun-tahun, dipicu oleh sanksi Barat, praktik korupsi, serta fenomena masyarakat yang mengalihkan tabungan ke dolar AS, emas, dan properti. Sepanjang 2025, nilai rial tercatat merosot sekitar 45 persen terhadap dolar AS.
Kondisi ekonomi Iran juga diperburuk oleh penurunan harga minyak dunia. Harga minyak Brent turun sekitar 18 persen sepanjang 2025 dan ditutup di kisaran US$60 per barel. Angka ini jauh di bawah kebutuhan Iran untuk menyeimbangkan anggaran negara, yang menurut Dana Moneter Internasional (IMF) memerlukan harga minyak sekitar US$165 per barel.
Di tengah meluasnya protes, situasi keamanan tetap tegang. Pemerintah Iran dilaporkan berupaya menekan demonstrasi, sementara Amerika Serikat melontarkan ancaman kemungkinan tindakan militer, yang semakin menambah ketidakpastian di kawasan dan memperburuk sentimen ekonomi Iran. (Firmansyah/Mun)
-
NASIONAL07/08/2026 06:00 WIBAmnesty Desak MBG Dihentikan Usai Dugaan Keracunan Massal
-
EKBIS07/08/2026 10:30 WIBRupiah Jadi Pecundang di Asia Pagi Ini
-
FOTO07/08/2026 18:45 WIBFOTO: Bawaslu Teken Kerjasama dengan Pemuda LIRA Perkuat Pengawasan Pemilu
-
PAPUA TENGAH07/08/2026 09:00 WIBPBB: Jangan Rampas Suara Rakyat Lewat Ambang Batas Parlemen
-
EKBIS07/08/2026 09:30 WIBIHSG Kembali Hijau
-
NASIONAL07/08/2026 11:00 WIBDPR: QRIS Diduga Dimanfaatkan untuk Deposit Judi Online
-
NASIONAL07/08/2026 10:00 WIBSatu Tahun Berlalu, KPK Belum Berani Tahan Tersangka CSR BI?
-
JABODETABEK07/08/2026 05:30 WIBBMKG: Cuaca Jakarta Didominasi Cerah Berawan

















