Connect with us

DUNIA

Isu Kudeta dan Kebocoran Nuklir ke AS, Xi Jinping Copot Dua Jenderal Top China

Aktualitas.id -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) bersama Presiden China Xi Jinping dalam sebuah pertemuan di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Reuters/Damir Sagolj

AKTUALITAS.ID – Dua jenderal tertinggi militer China dilaporkan dicopot dari jabatannya setelah diduga membocorkan rahasia sensitif terkait program nuklir Beijing kepada Amerika Serikat. Pencopotan ini memicu spekulasi global, termasuk dugaan adanya potensi upaya kudeta terhadap Presiden China Xi Jinping.

Laporan tersebut pertama kali diungkap Wall Street Journal (WSJ) dalam artikel yang terbit Minggu (25/1/2026). Media itu mengutip sejumlah sumber yang mengetahui proses internal di tubuh militer China.

Salah satu jenderal yang dicopot adalah Zhang Youxia (75), Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC), lembaga tertinggi Partai Komunis China yang mengendalikan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Zhang diduga membocorkan data teknis inti mengenai senjata nuklir China kepada Amerika Serikat.

Selain tuduhan kebocoran rahasia negara, Zhang juga dituding membangun kelompok politik di internal militer serta menyalahgunakan kewenangan dalam pengambilan keputusan strategis. Ia bahkan disebut menerima suap untuk mempromosikan seorang perwira menjadi Menteri Pertahanan, yang diduga merujuk pada Li Shangfu, mantan Menteri Pertahanan China yang dicopot pada 2023.

Menurut WSJ, Presiden Xi Jinping telah membentuk satuan khusus untuk menyelidiki masa jabatan Zhang saat menjabat sebagai Komandan Wilayah Militer Shenyang pada periode 2007–2012.

Selain Zhang, Liu Zhenli, Kepala Departemen Staf Gabungan CMC, juga dilaporkan dicopot dan tengah diselidiki sejak Sabtu (24/1/2026). Otoritas China disebut telah menyita perangkat komunikasi para perwira yang naik pangkat di bawah kepemimpinan Zhang dan Liu.

Hingga kini, Zhang Youxia belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Kementerian Pertahanan China dan Kedutaan Besar China di Washington juga tidak memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.

Pencopotan dua tokoh ini mengejutkan komunitas internasional karena keduanya berada di lingkar inti komando militer China. Dengan tersingkirnya Zhang dan Liu, struktur komando militer tertinggi kini hanya menyisakan Xi Jinping dan Zhang Shengmin, wakil ketua CMC yang bertanggung jawab atas disiplin militer.

Sejumlah pengamat menilai gonjang-ganjing ini sebagai krisis militer terbesar di China sejak berakhirnya era Mao Zedong pada 1976. Retaknya hubungan Xi dengan Zhang Youxia menjadi sorotan, mengingat keduanya memiliki ikatan historis yang kuat. Ayah Zhang dan ayah Xi diketahui berasal dari Provinsi Shaanxi dan pernah bertugas bersama dalam perang saudara China.

Xi Jinping bahkan mempertahankan Zhang di posisi puncak militer meski usianya telah melampaui batas pensiun resmi 68 tahun, sebuah perlakuan istimewa yang jarang terjadi.

Mantan analis CIA untuk China, Dennis Wilder, menilai pencopotan Zhang kemungkinan besar dipicu kekhawatiran Xi terhadap potensi konsolidasi kekuasaan di militer.

“Xi mungkin khawatir Zhang terlalu kuat di militer. Jika Xi mengincar masa jabatan keempat, ia bisa melihat Zhang sebagai ancaman internal,” ujar Wilder kepada Financial Times.

Pernyataan resmi Kementerian Pertahanan China menyebut Zhang dan Liu diselidiki atas “pelanggaran disiplin serius dan pelanggaran hukum”, istilah yang lazim digunakan Partai Komunis China dalam kasus korupsi maupun pembersihan politik.

Editorial harian militer PLA Daily bahkan menuduh keduanya “merusak sistem tanggung jawab ketua”, istilah yang secara langsung merujuk pada otoritas Xi Jinping sebagai panglima tertinggi.

Meski demikian, tidak semua pengamat meyakini isu kudeta. James Char, akademisi dari S Rajaratnam School of International Studies Singapura, meragukan adanya keberanian elite militer untuk menantang Xi secara terbuka.

“Saya sangat ragu siapa pun di rezim ini berani melakukan konfrontasi langsung melawan Xi Jinping,” ujarnya.

Namun Char mengakui kejatuhan Zhang kemungkinan terkait konflik faksional dan fenomena mountaintop-ism, yakni praktik membangun basis kekuasaan regional di tubuh militer – masalah klasik yang sejak lama membayangi Partai Komunis China. (Mun)

TRENDING