Connect with us

DUNIA

Perang AS-Israel dan Iran Diperkirakan akan Terus Berlanjut

Aktualitas.id -

Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf. (Tangkapan layar YouTube)

AKTUALITAS.ID – Ketegangan di kawasan Timur Tengah mengalami peningkatan setelah AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, yang hingga kini menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menilai perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran diperkirakan tidak akan segera mereda meskipun negara-negara kawasan Teluk akan menyambut Idul Fitri pada pekan depan.

Menurut Faisal, sejumlah pernyataan dari pejabat Iran menunjukkan kesiapan Teheran untuk menghadapi konflik dalam jangka waktu panjang.

“Perang akan terus berlanjut karena kunci akhirnya perang ada di Iran. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Naini bilang Iran siap berperang selama enam bulan melawan Amerika Serikat dan Israel,” kata Faisal di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ia mengatakan komitmen Iran untuk bertahan dalam situasi perang berkepanjangan juga disampaikan oleh sejumlah pejabat lainnya di Teheran. Salah satunya adalah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, yang menyatakan bahwa Iran telah bersumpah untuk bertempur dengan seluruh kekuatan.

Faisal menambahkan bahwa Iran secara tegas menolak gagasan gencatan senjata dan memilih untuk melanjutkan perang. Sikap tersebut, menurutnya, juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

“Bagi Iran, perang baru akan berhenti jika Amerika dan Israel menyerah, dalam arti menghentikan perang,” ucap Faisal.

Di sisi lain, ia menyebut bahwa markas besar Departemen Pertahanan AS, Pentagon, dilaporkan tengah menyiapkan rencana operasi militer untuk jangka waktu seratus hari.

“Artinya, kedua pihak mengisyaratkan perang akan berlangsung lama. Apalagi Presiden Amerika Trump sebelumnya menyatakan perang akan terjadi dalam empat hingga lima minggu, kemudian direvisi kembali menjadi lima minggu,” ujar Faisal.

Adapun negara kawasan Teluk merujuk pada enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman. Negara-negara dengan mayoritas berpenduduk Islam itu turut menjadi sasaran serangan balasan Iran karena menampung aset militer milik AS.

(Ari Wibowo/goeh)

TRENDING