Connect with us

DUNIA

Houthi Siap Tutup Selat Bab al-Mandab

Aktualitas.id -

Houthi Siap Tutup Selat Bab al-Mandab, ilustrasi foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Kelompok militan Houthi di Yaman dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah besar dengan menutup Selat Bab al-Mandab, jalur strategis perdagangan global, sebagai bentuk dukungan terhadap Iran di tengah konflik Timur Tengah yang semakin memanas.

Anggota politbiro Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, menyebutkan bahwa rencana penutupan tersebut akan difokuskan pada kapal-kapal yang terafiliasi dengan negara sekutu Amerika Serikat dan Israel.

Langkah ini dinilai berpotensi memperluas eskalasi konflik, mengingat Selat Bab al-Mandab merupakan salah satu jalur vital dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, serta menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas dari Asia ke Eropa.

Jika blokade benar-benar dilakukan, kapal tanker diperkirakan harus memutar melalui jalur lebih panjang mengelilingi Afrika. Hal ini akan meningkatkan biaya logistik dan berpotensi memicu lonjakan harga energi global serta inflasi di berbagai negara.

Sebelumnya, kelompok Houthi telah berulang kali menyerang kapal-kapal yang dianggap terkait dengan Israel dan Amerika Serikat di kawasan Laut Merah menggunakan rudal dan drone. Serangan tersebut memicu balasan militer dari kedua negara yang menargetkan fasilitas militer Houthi di Yaman.

Eskalasi konflik semakin meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan ke berbagai target di kawasan Timur Tengah.

Situasi ini juga berdampak pada jalur strategis lain, yakni Selat Hormuz, yang mengalami gangguan serius terhadap arus distribusi energi global.

Lembaga riset energi melaporkan bahwa produksi minyak di kawasan Teluk Persia turun drastis hingga hampir 7 juta barel per hari akibat terganggunya jalur ekspor. Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga Kuwait terpaksa membatasi produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan.

Jika kondisi ini terus berlanjut, para analis memperingatkan potensi krisis energi global yang dapat memicu dampak ekonomi luas, mulai dari kenaikan harga bahan bakar hingga tekanan inflasi di berbagai negara.

Langkah Houthi ini pun menjadi sorotan dunia, karena berpotensi membuka front baru dalam konflik Timur Tengah yang semakin kompleks dan meluas. (Mun)

TRENDING