EKBIS
Ultimatum 48 Jam Trump Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
AKTUALITAS.ID – Harga minyak dunia melonjak tajam pada Senin (23/3/2026), dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya, Trump memberi tenggat waktu 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali jalur vital tersebut atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Ancaman ini langsung mengguncang pasar energi global.
Mengutip laporan Agence France-Presse, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak 1,8 persen hingga menembus US$100 per barel pada awal perdagangan. Sementara itu, minyak mentah Brent Laut Utara naik ke level US$113,44 per barel sebelum terkoreksi tipis ke kisaran US$111.
Lonjakan ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan harga pada akhir Februari lalu, di mana WTI berada di kisaran US$67,02 dan Brent sekitar US$72,48 per barel, sebelum konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas.
Ketegangan meningkat setelah Iran memblokir Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia. Penutupan ini hampir melumpuhkan arus pengiriman energi global dan memicu kekhawatiran krisis pasokan.
Trump melalui platform Truth Social bahkan menyatakan bahwa militer AS siap “menyerang dan menghancurkan” fasilitas energi utama Iran jika ultimatum tersebut tidak dipenuhi.
Di sisi lain, militer Iran merespons dengan ancaman balasan, menargetkan infrastruktur energi milik AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini memperbesar risiko konflik terbuka yang lebih luas.
Sementara itu, Israel turut memperkeruh situasi. Kepala militer Israel, Eyal Zamir, mengonfirmasi bahwa operasi militer terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon akan diperluas dan diperkirakan berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
Sebagai balasan atas serangan AS dan Israel, Iran dilaporkan telah meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai target strategis, termasuk infrastruktur energi di negara-negara sekutu Washington serta kapal-kapal yang melintas di kawasan Teluk.
Para analis menilai, jika ketegangan ini terus meningkat, harga minyak berpotensi menembus level yang lebih tinggi dan memicu krisis energi global seperti yang pernah terjadi pada dekade 1970-an.
Situasi ini kini menjadi perhatian serius dunia, mengingat dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga inflasi global dan stabilitas ekonomi internasional. (Bowo/Mun)
-
NASIONAL30/06/2026 07:00 WIBTB Hasanuddin: Latihan Militer Kopdes Telan Rp30 Juta/Orang
-
RIAU30/06/2026 20:45 WIBMTQ Riau 2026, Kafilah Bengkalis Raih Dua Gelar Juara Sekaligus
-
NUSANTARA30/06/2026 13:30 WIBJangan Nekat! Jalur Pendakian Merapi Masih Ditutup Total
-
FOTO30/06/2026 19:30 WIBFOTO: Dukungan Terdakwa Nadiem Makarim dari Driver Gojek
-
JABODETABEK30/06/2026 06:30 WIBLayanan SIM Keliling Dibuka di 5 Wilayah Jakarta
-
POLITIK30/06/2026 16:00 WIBPengamat: Rivalitas Jokowi dan PDIP Kian Terbuka Jelang 2029
-
EKBIS30/06/2026 17:40 WIBLaba Naik 41 Persen, Dwi Shri Farmindo Tbk Tahan Dividen Demi Ekspansi Bisnis
-
NUSANTARA30/06/2026 12:51 WIBKepala Dishub Lubuk Linggau Bantah Tuduhan Parkir Dikuasai Keluarga Wali Kota, Siap Tempuh Hukum

















