OASE
Cara Membedakan Hadis Sahih dan Palsu
AKTUALITAS.ID – Maraknya penyebaran hadis di media sosial kembali menjadi perhatian para ulama. Di tengah derasnya arus informasi digital, umat Islam diingatkan agar tidak mudah membagikan setiap hadis yang beredar tanpa terlebih dahulu memastikan keabsahannya.
Dalam ilmu hadis, hadis maudhu’ adalah hadis yang dibuat-buat atau dipalsukan dengan kemudian disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Para ulama menjelaskan bahwa pemalsuan hadis dilakukan dengan berbagai motif, mulai dari kepentingan pribadi, fanatisme kelompok, mencari popularitas, hingga alasan politik atau kepentingan tertentu.
Rasulullah SAW sendiri telah memberikan peringatan keras terhadap perbuatan tersebut. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa siapa saja yang sengaja berdusta atas nama beliau akan mendapatkan ancaman yang sangat berat. Hadis lain juga memperingatkan bahwa orang yang menyampaikan riwayat yang diketahuinya palsu turut memikul dosa atas penyebaran kebohongan tersebut.
Pakar ilmu hadis Mahmud Thahan dalam kitab Taysîru Musthalahil Hadîts menjelaskan bahwa pemalsu hadis umumnya menggunakan dua cara. Pertama, membuat sendiri redaksi hadis lalu menyusun sanad palsu. Kedua, mengambil kata-kata hikmah atau ucapan tokoh tertentu, kemudian menisbatkannya kepada Nabi Muhammad SAW dengan sanad yang direkayasa.
Para ulama hadis telah mengembangkan metodologi ilmiah yang ketat untuk menguji keaslian sebuah hadis. Di antaranya adalah meneliti kredibilitas para perawi, memastikan kemungkinan pertemuan antarperawi dalam rantai sanad, menelaah isi atau matan hadis, serta membandingkannya dengan Al-Qur’an dan hadis-hadis yang telah dinilai sahih.
Hadis yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an, bertolak belakang dengan hadis sahih, mengandung janji pahala atau ancaman yang berlebihan tanpa dasar yang kuat, ataupun memiliki redaksi yang tidak sesuai dengan gaya bahasa Nabi Muhammad SAW menjadi bagian dari indikator yang harus diteliti lebih lanjut oleh para ahli.
Salah satu contoh yang kerap menjadi pembahasan di kalangan ulama adalah ungkapan “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.” Hadis tersebut sangat populer di tengah masyarakat. Namun, sejumlah ulama hadis, termasuk KH. Ali Mustafa Yaqub, dalam kajiannya menyebut riwayat tersebut berstatus tidak sahih dan dinilai sebagai hadis palsu berdasarkan penilaian para ahli hadis terdahulu seperti Ibnu Hibban terhadap salah satu perawinya.
Meski demikian, para ulama juga mengingatkan bahwa penilaian sahih, hasan, dhaif, maupun maudhu’ merupakan bidang keilmuan khusus yang memerlukan penguasaan mendalam terhadap ilmu hadis, sanad, biografi para perawi, serta metodologi kritik hadis. Karena itu, masyarakat dianjurkan merujuk kepada kitab-kitab hadis yang otoritatif atau penjelasan ulama yang memiliki kompetensi di bidang ilmu hadis sebelum menjadikan suatu riwayat sebagai landasan hukum atau dakwah.
Di era digital, sikap tabayun atau melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi keagamaan dinilai semakin penting. Kehati-hatian dalam menyebarkan hadis bukan hanya menjaga kemurnian ajaran Islam, tetapi juga menghindarkan umat dari penyebaran informasi yang keliru atas nama Rasulullah SAW. (Mun)
-
FOTO14/08/2026 21:45 WIB
FOTO: Presiden Prabowo Sampaikan Capaian Ekonomi saat Pidato Sidang Tahunan MPR
-
DUNIA14/08/2026 18:00 WIBUSS George Washington Gantikan Abraham Lincoln
-
NUSANTARA14/08/2026 19:00 WIBPrabowo Target Pendapatan Negara 2027 Tembus Rp3.426 Triliun
-
NUSANTARA14/08/2026 22:00 WIB622 Hektare Lahan Kalteng Terbakar
-
NUSANTARA14/08/2026 20:00 WIBTahanan Kabur, Kapolsek Pangkep Langsung Diganti
-
NUSANTARA15/08/2026 07:30 WIBBNPB: Gempa M 7 Renggut 2 Nyawa di NTT
-
NASIONAL15/08/2026 13:00 WIBAmnesty: Pidato Prabowo Disebut Minim Bahas HAM
-
NUSANTARA15/08/2026 10:30 WIBGempa M7 Rusak Rumah hingga Hotel di NTT

















