Connect with us

DUNIA

Trump Makin Terpojok Gara-gara Iran

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menundukkan Iran dalam hitungan minggu kini berbalik menjadi mimpi buruk geopolitik dan politik domestik. Memasuki bulan keenam invasi, Trump tidak hanya terdesak oleh perlawanan sengit Tehran, tetapi juga dihantam krisis internal dan kemerosotan moral pasukan yang mengancam kredibilitas kepemimpinannya.

Analisis tajam Aaron Blake dari CNN membeberkan rentetan fakta mengkhawatirkan yang mengikis klaim kemenangan AS. Salah satu insiden paling menyita perhatian terjadi saat kepulangan Trump dari KTT NATO di Turki.

Demi menghindari potensi ancaman pembunuhan menggunakan rudal bahu oleh militan dekat lokasi acara, Trump dilaporkan berganti pesawat secara rahasia—bahkan sempat melewati jalur kontainer katering demi mengecoh perhatian. Langkah senyap ini tidak hanya mengorbankan keamanan rombongan pers dan staf yang ditinggalkan di Air Force One tanpa peringatan awal, tetapi juga meruntuhkan narasi sesumbar Trump yang menyebut militer Iran “sudah hancur total”.

BACA JUGA  Indikasi ada Kecurangan, Trump: Kami Ingin Semua Penghitungan Suara Dihentikan

Di garis depan, kalkulasi militer AS terbukti meleset jauh. Janji awal bahwa konflik hanya akan berlangsung empat hingga enam minggu menguap begitu saja. Laporan CNN mengungkapkan bahwa hampir 80 persen stok rudal pencegat milik AS telah ludes digunakan dalam operasi tempur ini.

Kondisi ini mengonfirmasi peringatan dini yang pernah disampaikan Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine. Kritisnya pasokan amunisi tak hanya menempatkan AS pada posisi rentan, tetapi juga membuka celah geopolitik berbahaya bagi negara rival seperti China untuk mengambil langkah agresif terhadap Taiwan.

Dampak perang berlarut ini menghantam keras kesehatan fisik dan mental prajurit AS. Laporan dari Military Times, Navy Times, dan MS Now mengungkap kondisi memprihatinkan di atas kapal induk USS Abraham Lincoln, yang mencatat rekor penugasan terlama di Timur Tengah melebihi 260 hari sejak November 2025.

BACA JUGA  Trump Prediksi Kematian akibat Corona di AS Sebanyak 100 Ribu

Selain kelelahan ekstrem dan dek penerbangan yang dilaporkan berlubang, para personel menghadapi krisis kebutuhan dasar seperti kelangkaan air bersih, makanan, hingga produk sanitasi esensial. Frustrasi mendalam akibat penugasan tanpa kepastian bahkan memicu insiden nekat sejumlah prajurit yang nekat melompat ke laut demi bisa segera pulang.

Di dalam negeri, guncangan politik makin tak terbendung. Tokoh-tokoh berpengaruh di lingkaran konservatif dan pendukung setia Trump mulai terang-terangan mendesak agar agresi militer ini segera dihentikan. Ketua Parlemen Mike Johnson hingga pembawa acara Fox News Laura Ingraham menyuarakan kekhawatiran serupa menjelang pemilu paruh waktu.

Influencer sayap kanan Benny Johnson bahkan menyebut perang berkepanjangan ini sebagai ancaman fatal bagi kepemimpinan Trump.

BACA JUGA  Jelang Pemakzulan Trump, Anggota Kongres Diancam Dibunuh

“Perang di luar negeri yang tak kunjung usai selalu tidak disukai. Perang seperti itu akan selalu menjadi kanker politik,” tulis Johnson di platform X. “Akhiri perang. Selesaikan. Fokus kembali pada Amerika. Bensin, bahan makanan, harga rumah, dan imigrasi. Itulah cara kita menang.”

Meskipun Pihak Angkatan Laut AS menegaskan telah menyiagakan tim medis dan kesehatan mental untuk mengatasi trauma prajurit, deretan krisis beruntun ini menegaskan satu hal: perang Iran kini menjadi beban berat yang membuat Trump benar-benar ‘mumet’ dan terdesak di panggung global maupun domestik. (Mun)

TRENDING