Connect with us

OASE

Siapa Saksi Wahyu Pertama Nabi Muhammad SAW?

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira tidak hanya disaksikan oleh entitas gaib, tetapi juga divalidasi oleh tokoh-tokoh penting lintas agama pada masanya. Secara gaib, Malaikat Jibril adalah saksi utama yang bertugas menyampaikan wahyu langsung dari Allah SWT. Namun, di ranah manusia, kesaksian tersebut pertama kali dibenarkan oleh sang istri, Siti Khadijah.

Siti Khadijah tidak sekadar percaya. Ia mengambil langkah strategis dengan membawa Rasulullah menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang cendekiawan Kristen yang menguasai kitab-kitab suci terdahulu. Waraqah dengan tegas menjadi saksi pembenar bahwa sosok gaib yang mendatangi Muhammad adalah malaikat yang sama (Namus) yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa dan Yesus.

BACA JUGA  Benarkah Ketampanan Nabi Muhammad SAW Lebih Memukau dari Nabi Yusuf?

Jauh sebelum wahyu turun, masyarakat pra-Islam di Jazirah Arab, khususnya kaum Yahudi dan Kristen, sebenarnya tengah menanti kedatangan seorang nabi akhir zaman. Ironisnya, ketika Nabi Muhammad SAW benar-benar muncul, respons masyarakat terbelah; ada yang langsung beriman, namun tak sedikit yang menolak karena gengsi dan kesombongan.

Fakta sejarah ini diabadikan dengan tajam oleh Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 89:

وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْۙ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖ ۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

“Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (Alquran) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.”

BACA JUGA  Doa Rasulullah untuk Berlindung dari Hilangnya Nikmat dan Datangnya Murka Allah

Meski banyak yang ingkar, sejarah mencatat sejumlah pemuka agama dari luar Islam yang memberikan kesaksian valid atas kenabian Muhammad. Dari kalangan Nasrani, ada sosok Pendeta Buhaira. Jauh sebelum masa kenabian, Buhaira telah melihat tanda-tanda kerasulan pada diri Muhammad muda dan memperingatkan pamannya, Abu Thalib. “…Keberuntungan besar ada di depan keponakanmu, jadi bawa dia pulang dengan cepat,” ujar Buhaira kala itu. Waraqah bin Naufal melengkapi kesaksian ini tak lama sebelum ia wafat.

Dari kalangan Yahudi, kesaksian tak kalah kuat datang dari tokoh-tokoh terkemuka. Di Madinah, dua rabi Yahudi terkenal, Abdullah bin Salam dan Mukhayriq, tanpa ragu mengakui kenabian Rasulullah. Menyusul kemudian dua rabi asal Yaman, Wahb bin Munabbih dan Ka’b al-Ahbar. Ka’ab secara khusus menemukan detail nubuat Nabi Muhammad yang telah disebutkan panjang lebar oleh Nabi Musa di dalam Taurat.

BACA JUGA  Ratu Shima: Penguasa Nusantara Era Nabi Muhammad SAW yang Ketenarannya Mendunia hingga Arab

Validasi dari para ulama lintas agama ini menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan. Hal ini ditegaskan kembali dalam firman Allah pada Surah Asy-Syu’ara’ ayat 197:

اَوَلَمْ يَكُنْ لَّهُمْ اٰيَةً اَنْ يَّعْلَمَهٗ عُلَمٰۤؤُا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ

“Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (Mun)

TRENDING