OASE
Matahari Disebut 33 Kali dalam Al-Qur’an
AKTUALITAS.ID – Matahari bukan sekadar benda langit yang menerangi bumi. Dalam Al-Qur’an, matahari disebut dalam sejumlah ayat dengan berbagai konteks, mulai dari cahaya, peredaran benda langit, perhitungan waktu hingga tanda kebesaran Allah.
Dalam materi yang dirujuk, kata syams (الشمس) disebut sebanyak 33 kali dalam Al-Qur’an. Matahari juga digambarkan dengan istilah siraj, yakni pelita atau penerang.
Salah satu penyebutan tersebut terdapat dalam Surah Nuh ayat 16, yang membandingkan matahari dan bulan:
وَّجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا
Artinya: “Di sana Dia menjadikan bulan bercahaya dan matahari sebagai pelita (yang cemerlang).”
Matahari Disebut Siraj
Dalam penjelasan tafsir yang dikutip, penggunaan istilah siraj untuk matahari menggambarkan benda langit yang memberikan penerangan.
Sementara itu, bulan disebut dengan istilah nur dalam ayat tersebut.
Perbedaan istilah ini kemudian sering dibahas dalam kajian Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, terutama mengenai karakteristik matahari sebagai sumber energi dan cahaya serta bulan yang tampak bercahaya karena menerima dan memantulkan cahaya Matahari.
Namun, istilah-istilah Al-Qur’an tersebut perlu dipahami dalam konteks bahasa dan tafsirnya, bukan semata-mata sebagai istilah teknis astronomi modern.
Matahari Berperan dalam Perhitungan Waktu
Al-Qur’an juga mengaitkan matahari dan bulan dengan sistem perhitungan waktu.
Dalam Surah Yunus ayat 5, Allah berfirman mengenai matahari yang bersinar dan bulan yang bercahaya serta penetapan tempat-tempat peredarannya agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa fenomena benda-benda langit memiliki keteraturan yang dapat menjadi dasar manusia dalam mengenali dan menghitung waktu.
Pergerakan benda langit kemudian menjadi bagian penting dalam berbagai sistem kalender dan pengukuran waktu sepanjang sejarah manusia.
Matahari sebagai Sumber Energi
Dalam perspektif astronomi modern, Matahari merupakan sebuah bintang yang menjadi pusat tata surya.
Energi Matahari berasal dari proses fusi nuklir di bagian intinya. Energi tersebut kemudian dipancarkan dalam bentuk radiasi dan menjadi sumber energi utama bagi sistem kehidupan di Bumi.
Cahaya Matahari berperan penting dalam proses fotosintesis tumbuhan. Energi Matahari juga memengaruhi iklim, cuaca, siklus air, serta berbagai proses alam lainnya.
Dengan demikian, keberadaan Matahari memiliki peranan sangat besar terhadap kehidupan di Bumi.
Matahari Beredar pada Jalurnya
Al-Qur’an juga menyebut peredaran Matahari dalam Surah Yasin ayat 38:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.”
Ayat tersebut menggambarkan Matahari sebagai bagian dari keteraturan ciptaan Allah.
Dalam astronomi modern, Matahari memang tidak diam. Matahari berotasi pada porosnya dan bergerak mengorbit pusat galaksi Bima Sakti bersama seluruh tata surya.
Penting dicatat, menghubungkan ayat Al-Qur’an dengan temuan astronomi modern merupakan wilayah interpretasi. Ayat tersebut memiliki konteks bahasa dan tafsir tersendiri, sementara astronomi menjelaskan gerak benda langit melalui pengamatan dan model ilmiah.
Matahari Bukan untuk Disembah
Di balik pembahasan mengenai Matahari, Al-Qur’an juga menekankan aspek ketauhidan.
Matahari digambarkan sebagai ciptaan Allah, bukan sebagai Tuhan. Karena itu, fenomena alam seperti Matahari justru diarahkan sebagai tanda untuk mengenali kebesaran Sang Pencipta.
Matahari memberikan cahaya dan energi, menjadi bagian dari keteraturan waktu, serta memiliki peranan penting bagi kehidupan. Namun, dalam perspektif Al-Qur’an, seluruh fungsi tersebut tetap berada dalam kerangka bahwa Matahari merupakan makhluk ciptaan Allah.
Cahaya Matahari dan Bulan
Secara ilmiah, Matahari merupakan bintang karena menghasilkan energinya sendiri melalui proses di bagian interiornya.
Bulan berbeda. Bulan merupakan satelit alami Bumi dan tidak menghasilkan cahaya tampak seperti bintang. Cahaya Bulan yang terlihat dari Bumi pada dasarnya merupakan cahaya Matahari yang dipantulkan permukaannya.
Dari perspektif kajian Al-Qur’an, perbedaan penyebutan Matahari dan Bulan dalam sejumlah ayat menjadi salah satu hal yang banyak dibahas oleh para penafsir dan pengkaji Al-Qur’an.
Pada akhirnya, pembahasan tentang Matahari dalam Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai cahaya dan benda langit. Ia juga mengarahkan perhatian manusia kepada keteraturan alam, manfaat ciptaan, perhitungan waktu, dan kebesaran Allah sebagai Pencipta. (Mun)
-
RIAU23/09/2026 11:45 WIBWartawan dan Pejabat Bengkalis Adu Mekanik di Haornas 2026
-
NASIONAL23/09/2026 06:00 WIBDPR: Jangan Tunggu Kapal Tenggelam Baru Bergerak
-
EKBIS23/09/2026 09:00 WIBEvita Nursanty Bongkar PR Kendaraan Listrik Indonesia
-
POLITIK23/09/2026 11:00 WIBPuan: Wacana Capres 2 Partai Belum Resmi
-
EKBIS23/09/2026 11:15 WIBHarga Emas Antam Hari Ini Sentuh Rp2,63 Juta
-
NUSANTARA23/09/2026 12:15 WIBDosen ISI Yogyakarta Dinonaktifkan
-
JABODETABEK23/09/2026 06:30 WIBCek 5 Titik SIM Keliling Jakarta Hari Ini
-
NUSANTARA23/09/2026 07:30 WIBSolok Porak-Poranda Diterjang Banjir Bandang

















