Connect with us

DUNIA

AS Tekor Rp670 T Gempur Iran

Aktualitas.id -

AS Tekor Rp670 T Gempur Iran

AKTUALITAS.ID – Niat hati menekan Iran, Amerika Serikat justru harus menelan pil pahit. Perang yang berkecamuk sejak Februari lalu kini resmi berubah menjadi “lubang hitam” yang menguras habis kas militer Negeri Paman Sam.

Berdasarkan laporan terbaru Kantor Anggaran Kongres AS (CBO) yang dirilis Selasa (15/9), konflik berdarah ini telah membakar dana wajib pajak sebesar US$38 miliar atau setara Rp670 triliun per 1 Agustus 2026. Buruknya lagi, angka fantastis ini belum akan berhenti berdetak.

Badan nonpartisan tersebut memperingatkan bahwa mesin perang AS masih akan terus menyedot dana sekitar US$2-3 miliar (Rp52 triliun) setiap bulannya, bergantung pada seberapa brutal intensitas pertempuran di lapangan.

BACA JUGA  AS Persiapkan Serangan terhadap Iran, Trump: Mengganti Pemerintahan Bisa Jadi Pilihan

Krisis Amunisi: Pertahanan Udara AS di Ujung Tanduk?

Bukan hanya dompet yang jebol, AS kini menghadapi ancaman strategis yang jauh lebih mengerikan: krisis senjata. Dari total kerugian, pengisian ulang amunisi menjadi biang kerok utama yang menelan biaya hingga US$21,7 miliar.

Fakta paling mengejutkan dari laporan CBO yang digagas oleh politisi Demokrat Brendan Boyle ini adalah menipisnya “perisai” udara Amerika.

Terkuras Hebat: AS dilaporkan telah menggunakan 50 hingga 66 persen total persediaan rudal pencegat pertahanan udaranya sejak Juni 2025.

Pemulihan Lambat: Kekosongan gudang senjata ini diprediksi tidak akan bisa terisi penuh setidaknya hingga beberapa tahun ke depan, membuat posisi AS rentan.

BACA JUGA  Presiden Iran Sebut Donald Trump akan Alami Nasib Suram Seperti Saddam Husein

“Penggantian amunisi dan hilangnya peralatan tempur menjadi komponen tunggal terbesar yang menguras kas Kementerian Perang,” tulis peringatan dalam laporan CBO tersebut.

Petaka AS tak berhenti di medan tempur Timur Tengah. CBO menggarisbawahi bahwa efek paling mematikan justru sedang mengintai perekonomian domestik Amerika Serikat.

Disulapnya Selat Hormuz menjadi arena pertempuran utama telah memutus urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia. Gangguan pasokan energi global ini diprediksi kuat akan mencekik warga AS dengan gelombang tekanan inflasi yang tajam.

Pada Juli lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sempat menaksir kerugian perang di angka US$37,5 miliar. Namun, dengan kas yang terus terkuras Rp52 triliun per bulan, stok rudal yang menipis, dan ancaman inflasi di depan mata, satu pertanyaan besar muncul: Sanggupkah Amerika bertahan lebih lama dalam perang ini? (Mun)

BACA JUGA  Jaringan Akun Pro-Trump Dihapus Facebook

TRENDING