OASE
Matahari Disebut 33 Kali dalam Al-Qur’an
AKTUALITAS.ID – Setiap pagi manusia menyaksikan matahari terbit, namun tidak semua menyadari bahwa benda langit tersebut merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang paling nyata. Dengan ukuran yang diperkirakan sekitar 330 ribu kali lebih besar dibandingkan massa Bumi, matahari menjadi sumber energi utama yang menopang kehidupan seluruh makhluk di planet ini.
Cahayanya menghangatkan bumi, membantu tumbuhan melakukan fotosintesis, menjaga keseimbangan iklim, hingga menjadi penentu waktu bagi kehidupan manusia. Di balik seluruh manfaat tersebut, Al-Qur’an mengajak manusia untuk merenungkan kebesaran Sang Pencipta sekaligus menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan-Nya.
Al-Qur’an menyebut matahari (Asy-Syams) dalam puluhan ayat dengan berbagai konteks, mulai dari sumber cahaya, penunjuk waktu, benda langit yang bergerak menurut ketetapan Allah, hingga sebagai tanda kekuasaan-Nya.
Salah satu ayat yang paling dikenal terdapat dalam Surah Yasin ayat 38 yang menyebutkan bahwa matahari berjalan pada tempat peredarannya sesuai ketetapan Allah. Ayat lain, seperti Surah Al-Anbiya ayat 33, menjelaskan bahwa matahari dan bulan masing-masing beredar pada garis edarnya.
Para ulama tafsir memahami ayat-ayat tersebut sebagai penegasan bahwa seluruh benda langit bergerak dalam keteraturan yang ditetapkan Allah SWT. Dalam perspektif sains modern, matahari memang bergerak di galaksi bersama tata surya, sementara bumi mengelilingi matahari sesuai hukum-hukum alam yang dapat dipelajari.
Al-Qur’an juga membedakan penyebutan matahari dan bulan. Matahari disebut sebagai “siraj” (pelita), sedangkan bulan digambarkan sebagai cahaya. Banyak ulama menafsirkan bahwa penyebutan ini menunjukkan perbedaan karakter keduanya; matahari memancarkan energi, sedangkan bulan tampak bercahaya karena memantulkan sinar matahari.
Selain menjadi sumber kehidupan, matahari juga menjadi penentu berbagai ibadah umat Islam. Pergerakan matahari menjadi acuan masuknya waktu salat, penentuan siang dan malam, serta membantu perhitungan waktu sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-An’am ayat 96 dan Surah Yunus ayat 5.
Fenomena gerhana matahari pun dipandang dalam Islam sebagai salah satu tanda kebesaran Allah yang mengajak manusia untuk memperbanyak zikir, doa, dan salat, bukan sebagai pertanda datangnya musibah kepada seseorang.
Di berbagai ayat lainnya, Allah bersumpah dengan matahari, di antaranya dalam Surah Asy-Syams ayat 1, “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” Sumpah ini dipahami oleh para ulama sebagai penegasan pentingnya manusia memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta.
Pesan yang dapat dipetik dari ayat-ayat tersebut bukan hanya tentang fenomena astronomi, tetapi juga tentang kerendahan hati. Jika bumi hanyalah bagian kecil dari tata surya, sementara manusia hanyalah penghuni kecil di atas bumi, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk berlaku sombong.
Melalui matahari, Al-Qur’an mengajak manusia untuk merenungkan keteraturan alam, mensyukuri nikmat kehidupan, memperkuat keimanan, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT. (Mun)
-
RIAU13/08/2026 16:00 WIBBikin Prabowo Terperanjat! Laporan Kapolda Riau Bangun 110 Jembatan Panen Pujian
-
DUNIA13/08/2026 18:00 WIBMoU Damai AS-Iran Ditangguhkan
-
NASIONAL13/08/2026 20:00 WIBDasco: Targetkan RUU Ketenagakerjaan Rampung Oktober 2026
-
JABODETABEK14/08/2026 05:30 WIBBMKG: Cuaca Jakarta Jumat Aman untuk Aktivitas
-
NASIONAL13/08/2026 19:00 WIBKPK Sita Emas 1,3 Kg & Rp 100 Juta usai Geledah Rumah Pemeriksa Pajak
-
OASE14/08/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Turunkan Ayat Penyembuh
-
DUNIA13/08/2026 21:00 WIBHukuman Mati Teheran Pemicu Kemarahan 30 Lebih Negara
-
NASIONAL14/08/2026 06:00 WIBWaka MPR Dorong EBT Jadi Mesin Baru Ekonomi Indonesia

















