Connect with us

DUNIA

Trump Klaim Iran Bisa Musnah Jika Perang Berlanjut

Aktualitas.id -

Presiden AS Donald Trump, foto: Meta AI

AKTUALITAS.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Trump menyatakan bahwa jika Washington terpaksa kembali menempuh jalur militer dalam konflik yang sedang berlangsung, maka Republik Islam Iran “tidak akan ada lagi”.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social setelah Amerika Serikat mengonfirmasi serangan terbaru terhadap sejumlah sasaran militer Iran. Menurut Trump, operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata dan serangan terhadap kepentingan AS di kawasan.

“Pesawat Amerika Serikat baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta lokasi radar pesisir karena kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata,” tulis Trump.

Dalam unggahan yang sama, Trump memperingatkan bahwa kesabaran Washington memiliki batas.

“Akan tiba saatnya kami tidak lagi bisa bersikap masuk akal dan terpaksa menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi,” tegasnya.

Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan drone Iran yang menyasar kapal tanker minyak berbendera Panama, Kiku, yang mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah.

Menurut militer AS, operasi itu menargetkan sejumlah fasilitas strategis, termasuk infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, radar pertahanan udara, lokasi penyimpanan drone, hingga kemampuan peletakan ranjau.

Di pihak lain, media Iran melaporkan ledakan terjadi di wilayah Sirik dan Pulau Qeshm di Iran bagian selatan. Pemerintah Iran mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sementara.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengeluarkan peringatan bahwa Iran akan memberikan respons yang lebih luas apabila kembali menjadi sasaran aksi militer.

“Jika agresi diulangi, respons kami akan lebih luas,” demikian pernyataan IRGC.

Ketegangan regional juga meluas ke negara-negara sekitar. Bahrain menyatakan wilayahnya menjadi sasaran beberapa drone Iran dan menuduh Teheran telah menggagalkan berbagai upaya perdamaian di kawasan.

Di Lebanon, pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, menolak kesepakatan damai yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon. Sebaliknya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah penting yang sekaligus menjadi pukulan bagi Iran dan Hezbollah.

Di tengah meningkatnya eskalasi, analis dari Royal United Services Institute, H.A. Hellyer, menilai Iran kemungkinan akan tetap mempertahankan tekanan terbatas di sekitar Selat Hormuz tanpa memicu perang berskala penuh.

Menurut Hellyer, strategi tersebut memungkinkan Iran mempertahankan tekanan terhadap jalur pelayaran internasional sekaligus menghindari konfrontasi langsung yang berpotensi berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.

Rangkaian pernyataan saling mengancam, serangan balasan, serta meningkatnya aktivitas militer di kawasan Teluk menunjukkan situasi keamanan di Timur Tengah masih sangat dinamis. Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda kuat bahwa ketegangan akan segera mereda, sementara komunitas internasional terus mencermati perkembangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan maupun jalur perdagangan global. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version