Connect with us

OTOTEK

BRIN Ingatkan Orbit Bumi Makin Padat Ancaman Tabrakan Satelit Mengintai

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta ai

AKTUALITAS.ID – Ruang antariksa di sekitar Bumi semakin ramai. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa lonjakan jumlah satelit aktif di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit atau LEO) meningkatkan tantangan baru bagi keselamatan operasi antariksa, termasuk risiko tabrakan yang dapat memicu bertambahnya serpihan antariksa.

Mengacu pada ESA Space Environment Report 2025, UCS Satellite Database, dan CelesTrak Active Satellites, jumlah satelit aktif di orbit LEO mencapai sekitar 14.500 unit pada 2026. Angka itu diproyeksikan melonjak hingga sekitar 100.000 satelit pada 2030 seiring berkembangnya megakonstelasi satelit.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN, Ery Fitrianingsih, mengatakan kondisi tersebut membuat paradigma lama dalam pengelolaan misi satelit perlu disesuaikan dengan dinamika orbit yang semakin kompleks.

“Kondisi itulah yang membuat populasi objek di LEO tumbuh sangat cepat, terutama sejak kemunculan megakonstelasi seperti Starlink, OneWeb, dan proyek serupa dari Tiongkok,” ujar Ery dalam Kolokium Series-7 PRTS BRIN.

Menurutnya, berbeda dengan orbit geostasioner (GEO) yang memiliki pengaturan posisi lebih ketat, satelit di orbit rendah bergerak lebih bebas sehingga kepadatan objek meningkat jauh lebih cepat.

BRIN juga mengingatkan bahwa radar berbasis darat saat ini hanya mampu melacak puluhan ribu objek berukuran lebih dari 10 sentimeter. Sementara itu, jutaan serpihan antariksa berukuran lebih kecil masih sulit dipantau, meski tetap berpotensi merusak satelit yang melintas.

Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah Kessler Syndrome, yakni skenario ketika tabrakan antara satelit atau serpihan antariksa menghasilkan lebih banyak debris, yang kemudian meningkatkan kemungkinan tabrakan berikutnya secara berantai. Dalam skenario tersebut, kepadatan serpihan dapat membuat suatu wilayah orbit semakin sulit digunakan untuk misi satelit baru.

Selain itu, Ery menilai meningkatnya jumlah satelit juga mempersempit waktu yang dimiliki operator untuk mengambil keputusan manuver penghindaran ketika muncul peringatan potensi tabrakan.

Ia mencontohkan insiden antara satelit Aeolus milik European Space Agency (ESA) dan satelit Starlink, ketika koordinasi antarpihak tidak berjalan sesuai harapan sehingga ESA akhirnya melakukan manuver secara sepihak.

Kasus lain terjadi pada Februari 2022 ketika 38 satelit Starlink gagal mencapai orbit operasional setelah terdampak badai geomagnetik yang meningkatkan hambatan atmosfer.

Belajar dari berbagai kejadian tersebut, BRIN menilai sistem operasi satelit masa depan perlu semakin otonom. Satelit diharapkan mampu melakukan penilaian risiko dan merencanakan manuver penghindaran secara mandiri tanpa selalu menunggu intervensi manusia.

Menurut Ery, kemampuan otonom bukan lagi sekadar inovasi, melainkan kebutuhan agar satelit dapat beroperasi dengan aman di lingkungan antariksa yang semakin padat dan dinamis.

Meski demikian, BRIN tidak menyatakan bahwa Bumi berada dalam ancaman langsung terhadap kehidupan manusia akibat kepadatan satelit. Peringatan yang disampaikan berfokus pada tantangan pengelolaan orbit, keselamatan operasi satelit, dan meningkatnya risiko tabrakan di ruang antariksa, yang memerlukan pengembangan teknologi dan koordinasi internasional yang lebih baik. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version