Connect with us

RAGAM

NASA: Bulan Tak Lagi Sedekat Dulu dengan Bumi

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Bulan ternyata tidak diam di tempat. Satelit alami Bumi itu perlahan menjauh dari planet kita sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun.

Pergerakan tersebut memang nyaris tidak terasa dalam kehidupan manusia. Namun dalam skala waktu astronomi, perubahan kecil itu memiliki konsekuensi besar terhadap masa depan sistem Bumi-Bulan.

Jarak rata-rata Bumi dan Bulan saat ini sekitar 384.400 kilometer. Para ilmuwan dapat mengukur perubahan jarak tersebut menggunakan eksperimen Lunar Laser Ranging.

Dalam misi Apollo pada era 1960-an, astronaut menempatkan reflektor khusus di permukaan Bulan. Dari Bumi, laser ditembakkan menuju reflektor tersebut, kemudian waktu yang dibutuhkan cahaya untuk kembali diukur dengan sangat presisi.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Bulan secara perlahan bergerak menjauh dari Bumi.

Bulan Menjauh, Apa Dampaknya?

Dampaknya tidak berarti Bumi akan tiba-tiba mengalami bencana. Perubahannya berlangsung sangat lambat sehingga manusia dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak akan merasakannya.

Namun, dalam rentang jutaan hingga miliaran tahun, perubahan orbit Bulan dapat mengubah sejumlah fenomena astronomi yang terlihat dari Bumi.

Salah satu yang paling menarik adalah Gerhana Matahari Total.

Saat ini, ukuran tampak Matahari dan Bulan di langit dari perspektif Bumi relatif mirip. Kondisi tersebut memungkinkan Bulan menutupi seluruh piringan Matahari ketika berada tepat di antara Bumi dan Matahari.

Secara fisik, Matahari sebenarnya sekitar 400 kali lebih besar daripada Bulan. Tetapi Matahari juga berada sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi. Kombinasi ukuran dan jarak tersebut membuat keduanya terlihat hampir sama besar di langit.

Masalahnya, Bulan perlahan menjauh.

Semakin jauh Bulan dari Bumi, semakin kecil pula ukuran tampaknya di langit. Pada suatu titik di masa depan, Bulan tidak lagi tampak cukup besar untuk menutupi seluruh Matahari.

Gerhana Total Bisa Berakhir

Ilmuwan NASA Richard Vondrak pada 2017 memperkirakan bahwa sekitar 600 juta tahun lagi, Gerhana Matahari Total dapat menjadi fenomena yang tidak lagi terjadi dari Bumi.

Seiring Bulan menjauh, gerhana Matahari total akan menjadi semakin jarang. Pada akhirnya, konfigurasi Bulan dan Matahari tidak lagi memungkinkan Bulan menutupi seluruh piringan Matahari.

Artinya, salah satu pertunjukan langit paling spektakuler yang saat ini dapat disaksikan manusia pada akhirnya akan menjadi bagian dari masa lalu.

Namun, angka ratusan juta tahun tersebut menunjukkan betapa lambatnya proses ini. Bagi manusia modern, perubahan 3,8 sentimeter per tahun praktis tidak memberikan ancaman langsung.

Bulan Dahulu Tampak Jauh Lebih Besar

Kondisi Bulan saat ini juga berbeda jauh dibandingkan masa lalu.

Sekitar miliaran tahun lalu, Bulan berada lebih dekat dengan Bumi sehingga ukuran tampaknya di langit jauh lebih besar dibandingkan sekarang.

Ketika Bumi dan Bulan masih berada pada tahap awal evolusinya, jarak keduanya jauh lebih dekat. Seiring waktu, interaksi gravitasi dan efek pasang surut membuat Bulan perlahan berpindah ke orbit yang lebih jauh.

Fenomena tersebut terus berlangsung hingga sekarang.

Jadi, Bulan memang sedang menjauh dari Bumi tetapi bukan berarti akan segera meninggalkan kita.

Perubahannya berlangsung sangat lambat. Yang berubah drastis justru ketika proses tersebut dilihat dalam skala waktu kosmik: Bulan perlahan mengecil di langit, sementara Gerhana Matahari Total pada akhirnya diperkirakan akan menghilang dari Bumi.

Bagi manusia saat ini, fenomena tersebut bukan ancaman yang perlu dikhawatirkan. Sebaliknya, Gerhana Matahari Total menjadi pengingat bahwa bahkan hubungan antara Bumi dan Bulan pun terus berubah mengikuti hukum fisika. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version