EKBIS
Krisis Keuangan dan Mogok Kerja, Boeing Rumahkan 17.000 Karyawan
AKTUALITAS.ID – Raksasa dirgantara Boeing mengumumkan keputusan sulit merumahkan 17.000 karyawan di tengah krisis keuangan yang terus menghimpit perusahaan. Keputusan ini merupakan imbas dari aksi mogok kerja besar-besaran yang melibatkan 33.000 pekerja serikat, yang telah menghentikan sebagian besar produksi pesawat Boeing sejak 14 September 2024.
CEO Boeing, Kelly Ortberg, dalam memo resmi menyampaikan bahwa keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK) ini merupakan langkah berat namun tak terelakkan. PHK tersebut mencakup sekitar 10% dari total karyawan Boeing, yang meliputi eksekutif, manajer, hingga staf umum di berbagai fasilitas, terutama di Washington dan Carolina Selatan.
“Kami mengalami kerugian finansial yang berkelanjutan dan menghadapi hambatan produksi yang signifikan akibat pemogokan. Langkah ini penting untuk menjaga kelangsungan operasi perusahaan dalam jangka panjang,” ujar Ortberg.
Dampak Mogok Kerja dan Krisis Keuangan
Aksi mogok kerja yang dimotori oleh pekerja mesin serikat ini menyebabkan terhentinya produksi pesawat-pesawat terlaris Boeing, termasuk proyek penting Boeing 777X yang rencananya diluncurkan pada 2026. Bahkan, rencana penghentian produksi jet kargo Boeing 767 pun telah diproyeksikan pada tahun 2027 setelah pemenuhan pesanan yang ada.
Tak hanya itu, krisis keuangan Boeing semakin diperparah oleh kerugian yang terus membengkak sejak 2019, yang kini mencapai lebih dari US$ 25 miliar. Pada kuartal ketiga 2024, Boeing melaporkan pembakaran kas sebesar US$ 1,3 miliar dan kerugian sebesar US$ 9,97 per saham.
Pengawasan dan Tantangan dari Lembaga Regulator
Di saat Boeing berjuang memperbaiki kondisi internalnya, perusahaan ini juga menghadapi tekanan eksternal dari Administrasi Penerbangan Federal (FAA) serta tantangan dalam program antariksa mereka. Penundaan dalam proyek transportasi astronot dengan NASA menjadi salah satu sorotan publik terkait masalah keselamatan pesawat ruang angkasa Boeing.
Ke depan, Boeing dihadapkan pada tugas berat untuk mengatasi berbagai tantangan besar, baik dari sisi produksi, finansial, maupun kepercayaan publik. Hanya waktu yang akan menjawab bagaimana perusahaan ini akan bertahan di tengah badai krisis yang melanda industri dirgantara global. (KAISAR/RAFI)
-
JABODETABEK14/03/2026 10:30 WIBDishub DKI Hentikan CFD Jakarta saat Libur Lebaran
-
NASIONAL14/03/2026 07:00 WIBKader PKB Syamsul Auliya Ditangkap KPK dalam OTT Proyek Pemkab Cilacap
-
DUNIA14/03/2026 08:00 WIBPentagon Sebut Mojtaba Khamenei Terluka Usai Jadi Pemimpin Iran
-
DUNIA14/03/2026 12:00 WIBCENTCOM Pastikan 6 Awak KC-135 Tewas dalam Kecelakaan
-
NASIONAL14/03/2026 13:00 WIBAhmad Sahroni: Polisi Harus Transparan soal Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
-
NASIONAL14/03/2026 14:00 WIBMenag: Umat Islam Dua Kali Rugi Jika Boikot Produk Pro-Israel
-
NASIONAL14/03/2026 09:00 WIBPRIMA Kecam Keras Dugaan Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS
-
NUSANTARA14/03/2026 08:30 WIBBMKG: Eks-Siklon Nuri Picu Potensi Hujan Lebat di Indonesia

















