EKBIS
Bapanas: Ada Tiga Indikator Indonesia Berhasil Raih Swasembada Beras
AKTUALITAS.ID – Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman optimistis stok beras pada 2026 sangat aman.
Dia juga menegaskan tidak boleh ada pelaku usaha sektor pangan yang memainkan harga melebihi ketentuan.
“Stok beras kita sangat aman. Tanpa impor, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus,” kata Amran.
“Jadi tidak ada masalah sampai Ramadhan (2026) dan tidak boleh ada yang bermain harga. Kalau ada yang melanggar, kita tindak bersama Satgas Pangan Polri,” tambah Amran.
Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengungkapkan tiga indikator yang membuat Indonesia meraih swasembada beras dengan stok tertinggi sepanjang sejarah.
Ketut menyebutkan tiga indikator tersebut pertama Indonesia tidak melakukan importasi beras di tahun 2025; kedua, produksi jauh melebihi dari pada konsumsinya; dan ketiga, stok Bulog relatif tinggi, lebih dari 3 juta ton di akhir tahun.
“Artinya tiga sisi ini yang menunjukkan kita bisa menyatakan bahwa posisi kita swasembada,” kata Ketut dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (6/1/2026).
Menurut Ketut, hal itu juga berdasarkan ketentuan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO), yang mana menyatakan apabila suatu negara tetap melakukan impor namun di bawah dari 10 persen dari kebutuhan maka, bangsa itu tetap dapat dikatakan swasembada.
“Apalagi sekarang secara tegas Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Kepala Bapanas (Andi Amran Sulaiman) jelas mengatakan tidak ada impor beras konsumsi. Jadi tentu dengan ini, kalau boleh dikatakan ini arahnya sudah swasembada,” tutur Ketut.
Menurut dia, visi swasembada pangan yang diusung Presiden Prabowo telah mulai terwujud dalam tahun pertama pemerintahannya.
Kebutuhan konsumsi beras sebagai pangan pokok strategis masyarakat Indonesia sudah mampu dipenuhi dari pasokan hasil kerja keras petani Indonesia sendiri. Tak ada impor sepanjang 2025.
Terkait itu, Bapanas mendukung pencapaian swasembada yang telah diraih pada 2025. Indikator swasembada beras termaktub dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 yang diolah Bapanas bersama-sama Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan kementerian/lembaga terkait lainnya.
“Kalau kita melihat berdasarkan data dari BPS, produksi beras kita kan lebih dari 34 juta ton di tahun 2025. Sementara kebutuhan kita kan hampir 31 juta ton. Kita punya surplus 3 juta ton. Itu saja sudah menandakan kita sudah swasembada,” jelasnya.
Adapun surplus yang dimaksud adalah selisih lebih antara produksi terhadap konsumsi beras secara nasional untuk tahun 2025. Surplus beras yang dikalkulasikan oleh Bapanas untuk tahun 2025 ada di angka 3,52 juta ton.
Angka tersebut berasal dari produksi beras sepanjang tahun 2025 di angka 34,71 juta ton yang telah melampaui kebutuhan konsumsi beras setahun di angka 31,19 juta ton.
Kebutuhan konsumsi itu pun sudah termasuk kebutuhan beras untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di 2025.
Diketahui, berkat surplus produksi terhadap konsumsi beras tersebut menjadikan stok beras di awal tahun 2026 mencapai 12,529 juta ton.
Angka itu sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog yang sebesar 3,248 juta ton. Selebihnya tersebar di masyarakat hingga distributor.
“Persebarannya ada di masyarakat, ada di pedagang, ada di distributor. Dengan begitu, kita butuh selama setiap bulan itu sekitar 2,5 juta ton. Jadi dengan 12,5 juta ton tadi, kekuatan kita sudah sangat kuat untuk menjaga ketahanan pangan,” tegasnya.
“Belum lagi nanti Januari dan Februari (2026) produksi (padi). Maret dan April panen raya. Ini menandakan kita di 2026 pun akan semakin kuat,” sambung Ketut.
Ia menambahkan dengan ketersediaan beras yang ada menandakan Indonesia berada dalam posisi aman.
(Purnomo/goeh)
-
POLITIK07/01/2026 15:00 WIBSurvei LSI Denny JA: 67,1% Pendukung Prabowo Tolak Keras Pilkada Lewat DPRD
-
POLITIK07/01/2026 07:00 WIBKemarin Menolak Keras, Kini Demokrat Berbalik Dukung Pilkada Lewat DPRD
-
FOTO07/01/2026 17:58 WIBFOTO: Survei LSI Denny JA: Mayoritas Publik Tolak Pilkada DPR
-
NUSANTARA07/01/2026 06:30 WIBBNPB Laporkan 16 Meninggal Akibat Banjir Bandang di Kepulauan Sitaro
-
POLITIK07/01/2026 10:00 WIBWaka DPR Minta Masyarakat Tempuh Uji Materi KUHP ke MK
-
POLITIK07/01/2026 09:00 WIBEddy Soeparno: Parpol Harus Dialog Cari Titik Temu Soal Sistem Pilkada
-
EKBIS07/01/2026 09:30 WIBIHSG Hari Ini Cetak Rekor Tertinggi Baru ke Level 8.958
-
POLITIK07/01/2026 13:00 WIBPengamat: Demokrat Berisiko Menghancurkan Warisan SBY Jika Dukung Pilkada via DPRD

















