Connect with us

JABODETABEK

 Tawuran Pelajar Pecah di Bidara Cina

Aktualitas.id -

alt="tawuran sekolah"
Ilustrasi Tawuran Pelajar. Ist

AKTUALITAS.ID – Tepat hari kedua masuk sekolah setelah libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Aksi tawuran dari dua kelompok pelajar pecah di Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Bidara Cina, Jakarta Timur, pada Selasa petang sekitar pukul 15.00 WIB.

“Tiba-tiba pelajar kumpul. Mereka manggil-manggil lawannya. Tidak lama lawannya datang lebih banyak,” kata salah satu warga RT 02/RW 03 Bidara Cina, Abdullah (53) di Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (6/1/2026).

Peristiwa itu disaksikan langsung oleh warga setempat yang sehari-hari berjualan helm di lokasi kejadian.

Abdullah menyebut, tawuran bermula ketika sekelompok pelajar berkumpul di depan gang dan memanggil kelompok lawannya. Dia memperkirakan jumlah pelajar yang terlibat mencapai puluhan orang. Beberapa di antaranya terlihat membawa senjata tajam maupun benda tumpul.

“Bawa senjata, macam-macam. Ada yang buat nimpuk, ada rantai gesper juga, rantai motor,” ujarnya.

Menurut dia, para pelajar itu bukan merupakan warga sekitar. Setelah bentrok pecah, kelompok tersebut berpindah lokasi menuju arah Terminal Kampung Melayu.

Dia berharap, aparat keamanan dan pihak sekolah lebih sigap mencegah tawuran, apalagi tahun ajaran baru baru saja dimulai.

Hingga kini belum ada laporan korban luka dari warga. Namun masyarakat meminta agar wilayah tersebut mendapat perhatian khusus karena rawan bentrokan pelajar.

“Harapannya ya harus ada yang ambil tindakan. Ya mungkin dari aparat kepolisian. Mungkin ada diadain operasi. Jadi, jangan tunggu sampai tawuran. Kalau bisa, ya saran saya, itu kalau jam sekolah, ada anak-anak nongkrong angkut,” ucap Abdullah.

Warga lain yakni Abdul Hakim (72) mengungkapkan, aksi tawuran pelajar di wilayah tersebut kerap terjadi, terutama saat jam pulang sekolah.

“Biasanya mereka nongkrong dulu di warung, ngopi, ngerokok. Nanti kalau lawannya datang di seberang, mulai saut-sautan mulut lalu tawuran. Ini sudah sering,” ucap Abdul.

Abdul mengaku resah karena para pelajar yang terlibat bukan warga setempat, sementara masyarakat sekitar harus menanggung dampaknya.

“Resah pasti. Kita juga tidak kenal siapa mereka,” ujar Abdul.

(Purnomo/goeh)

TRENDING