NASIONAL
TAUD Beberkan Dugaan Jaringan Besar di Balik Serangan
AKTUALITAS.ID – Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) membeberkan hasil investigasi independen terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. TAUD menduga kuat adanya keterlibatan pelaku dari kalangan sipil dalam aksi yang dinilai sebagai percobaan pembunuhan berencana tersebut.
Berdasarkan siaran pers resmi yang diterima pada Jumat (20/3/2026), TAUD menyebut serangan ini bukan aksi spontan, melainkan operasi besar yang melibatkan belasan orang secara terkoordinasi.
Salah satu temuan krusial dalam investigasi TAUD adalah identifikasi terduga pelaku ketiga (OTK 3). Pelaku yang mengenakan helm biru ini terlihat memantau area sekitar Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) beberapa jam sebelum kejadian dengan mengenakan jaket atribut ojek online berwarna hijau.
“Penemuan belasan terduga pelaku ini menunjukkan bahwa operasi ini merupakan operasi besar, terstruktur, dan terorganisir yang digerakkan oleh pihak yang memiliki otoritas,” tulis pernyataan resmi TAUD.
TAUD juga menyoroti adanya perbedaan informasi antara Polda Metro Jaya dan Puspom TNI. Hingga kini, Puspom TNI mengklaim telah mengamankan empat prajurit TNI sebagai terduga pelaku, namun TAUD menilai klaim tersebut belum disertai bukti permulaan yang transparan kepada publik.
“Kami mendesak Puspom TNI untuk bersikap akuntabel dengan menunjukkan pelaku secara langsung agar dapat diverifikasi kebenarannya oleh masyarakat secara independen,” tegas TAUD.
Di sisi lain, TAUD meminta Polri untuk tidak berhenti pada penangkapan eksekutor lapangan berinisial MAK dan BHC, melainkan terus mengejar aktor intelektual di balik serangan ini.
Melihat adanya simpang siur data dan kompleksitas keterlibatan berbagai unsur, TAUD mendorong pemerintah untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Tim ini diharapkan melibatkan aparat penegak hukum, masyarakat sipil, dan tokoh masyarakat berintegritas.
TAUD menegaskan bahwa proses hukum harus tetap tunduk di bawah kekuasaan peradilan umum demi menjamin transparansi.
“Menjadi sangat penting proses penegakan hukum dalam kasus ini tetap transparan. Kami mencari bukan hanya aktor lapangan, namun juga aktor intelektual dan pihak yang memberikan dukungan operasional,” pungkas TAUD.
Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras di Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026) malam. Insiden tersebut terjadi saat Andrie sedang dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara podcast di kantor YLBHI. Serangan ini memicu gelombang kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia yang menuntut perlindungan bagi pembela HAM di Indonesia. (Bowo/Mun)
-
EKBIS27/03/2026 15:00 WIBRobert Leonard Marbun Dilantik Sebagai Sekjen Kemenkeu
-
OASE27/03/2026 05:00 WIBJika Zakat Fitrah Diberikan kepada Keluarga Sendiri
-
JABODETABEK27/03/2026 10:00 WIBHari ini Tarif Transjakarta Hanya Rp12
-
NUSANTARA27/03/2026 12:30 WIBDLH Karawang Uji Lab Air Sungai yang Diduga Tercemar
-
JABODETABEK27/03/2026 07:30 WIBLayanan SIM Keliling Tersedia di Lima Lokasi Jakarta
-
EKBIS27/03/2026 08:30 WIBRupiah Melemah Jadi Rp16.928 Per Dolar AS
-
JABODETABEK27/03/2026 13:30 WIBIstri Dokter Richard Lee Diperiksa Sebagai Saksi
-
EKBIS27/03/2026 06:30 WIBPascaLebaran Harga Pangan di Bulukumba Sulsel Terkendali

















