OLAHRAGA
IOC Batasi Kompetisi Putri di Olimpiade
AKTUALITAS.ID – Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengumumkan Kelayakan untuk kategori perempuan akan ditentukan pertama-tama melalui skrining gen Sex-determining Region Y (SRY) untuk mendeteksi ada atau tidaknya gen SRY.
Kebijakan baru IOC tersebut terkait perlindungan kategori perempuan dalam olahraga Olimpiade berupa pembatasan kelayakan perempuan yang berkompetisi di kategori putri.
“Kebijakan yang telah kami umumkan didasarkan pada sains dan telah dipimpin oleh para ahli medis,” kata Presiden IOC Kirsty Coventry dalam laman resmi IOC yang dikutip di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Berdasarkan bukti ilmiah, IOC menganggap bahwa keberadaan gen SRY bersifat tetap sepanjang hidup dan merupakan bukti yang sangat akurat bahwa seorang atlet telah mengalami perkembangan jenis kelamin laki-laki.
IOC menganggap bahwa pemeriksaan gen SRY melalui air liur, usap pipi, atau sampel darah bersifat tidak invasif dibandingkan dengan metode lain yang mungkin dilakukan.
Atlet yang hasil skrining gen SRY-nya negatif secara permanen memenuhi kriteria kelayakan kebijakan ini untuk berkompetisi di kategori putri. Terkecuali jika ada alasan untuk meyakini bahwa hasil negatif tersebut adalah kesalahan.
Dengan pengecualian langka bagi atlet yang didiagnosis dengan Sindrom Insensitivitas Androgen Lengkap atau CAIS atau perbedaan/gangguan langka lainnya dalam perkembangan seks (DSD) yang tidak mendapat manfaat dari efek anabolik atau peningkatan performa testosteron, tidak ada atlet dengan hasil skrining SRY positif yang memenuhi syarat untuk berkompetisi dalam kategori wanita di ajang IOC.
Atlet dengan hasil skrining SRY positif, termasuk atlet transgender XY dan atlet XY-DSD yang sensitif terhadap androgen, tetap diikutsertakan dalam semua klasifikasi lain yang memenuhi syarat.
Misalnya, mereka memenuhi syarat untuk kategori pria apa pun, termasuk dalam slot pria yang ditentukan dalam kategori campuran apa pun, dan kategori terbuka apa pun, atau dalam olahraga dan acara yang tidak mengklasifikasikan atlet berdasarkan jenis kelamin.
Kirsty mengatakan bahwa dirinya sebagai mantan atlet sangat percaya pada hak semua atlet Olimpiade untuk berpartisipasi dalam kompetisi yang adil.
“Di Olimpiade, bahkan selisih terkecil pun dapat menjadi perbedaan antara kemenangan dan kekalahan,” katanya.
Oleh sebab itu, dia melanjutkan, tidak adil bagi laki-laki biologis untuk berkompetisi di kategori perempuan. Selain itu, dalam beberapa cabang olahraga, kata dia, hal itu sama sekali tidak aman.
Kirsty mengatakan bahwa setiap atlet harus diperlakukan dengan bermartabat dan hormat, dan atlet hanya perlu menjalani pemeriksaan sekali seumur hidup. Ia menambahkan bahwa harus ada edukasi yang jelas mengenai proses tersebut dan konseling yang tersedia, di samping saran medis dari para ahli.
(Yan Kusuma/goeh)
-
DUNIA02/08/2026 15:00 WIBBelasan Turis Asing Tewas dalam Kecelakaan Pesawat di Peru
-
OTOTEK02/08/2026 14:00 WIBBRIN Ingatkan Orbit Bumi Makin Padat Ancaman Tabrakan Satelit Mengintai
-
NUSANTARA02/08/2026 13:00 WIBWasit Tarkam Dikeroyok Suporter Laga Langsung Ricuh
-
DUNIA02/08/2026 12:00 WIBKuwait Gagalkan Serangan Drone Iran ke Fasilitas Pemerintah
-
NUSANTARA02/08/2026 16:00 WIBKebakaran Dahsyat Hantam KMP Mutiara Sentosa 2
-
NASIONAL02/08/2026 17:00 WIBPolri: Jangan Bangun Narasi Menakutkan soal Pagar Mal
-
DUNIA02/08/2026 18:00 WIB3 Pilot Lenyap Tanpa Jejak Usai Hancurkan Pangkalan AS di Qatar
-
NASIONAL02/08/2026 19:00 WIBKepala BGN Ancam Mutasi Pegawai yang Tak Disiplin

















