Connect with us

OASE

Al-Qur’an Memandang Yahudi & Kristen

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id -ai

AKTUALITAS.ID – Al-Qur’an memberikan gambaran yang kompleks mengenai agama-agama yang datang sebelum Islam. Dalam sejumlah ayat, Al-Qur’an menyebut adanya wahyu yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu, termasuk Nabi Musa dan Nabi Isa, sekaligus menempatkan Islam sebagai risalah yang dibawa Nabi Muhammad.

Karena itu, pembahasan mengenai agama samawi dalam perspektif Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai persamaan, tetapi juga memuat penegasan mengenai tauhid, risalah para nabi, serta posisi Al-Qur’an terhadap kitab-kitab sebelumnya.

Dalam tradisi Islam, Yahudi dan Nasrani dikenal sebagai Ahlul Kitab atau Ahli Kitab. Al-Qur’an sendiri menyebut orang-orang yang diberi kitab dalam berbagai konteks dan mengakui keberadaan wahyu yang telah diturunkan sebelum Al-Qur’an.

Wahyu Para Nabi Berakar pada Ketauhidan

Salah satu benang merah yang terlihat dalam ayat-ayat yang dikemukakan adalah seruan kepada penyembahan kepada Allah.

Dalam QS Al-Anbiya ayat 92, misalnya, disebutkan bahwa umat para nabi memiliki Tuhan yang satu dan diperintahkan untuk menyembah-Nya.

Pesan serupa muncul dalam QS Al-Anbiya ayat 93, yang kemudian menjelaskan bahwa manusia terpecah dalam urusan agama dan pada akhirnya seluruhnya akan kembali kepada Allah.

Sementara QS Al-Baqarah ayat 213 menggambarkan bahwa manusia pada awalnya merupakan umat yang satu, kemudian terjadi perselisihan sehingga Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan.

Al-Qur’an Mengakui Nabi dan Kitab Terdahulu

Penegasan mengenai kesinambungan kenabian terlihat jelas dalam QS Ali Imran ayat 84.

BACA JUGA  Kisah Menakjubkan Jin yang Memeluk Islam setelah Mendengar Bacaan Alquran

Ayat tersebut menyebut Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Musa, Isa, serta para nabi lainnya sebagai bagian dari rangkaian wahyu yang diyakini umat Islam.

Dengan demikian, Islam tidak memandang sejarah kenabian dimulai dari Nabi Muhammad. Dalam keyakinan Islam, Nabi Muhammad merupakan bagian dari rangkaian panjang risalah yang sebelumnya telah disampaikan melalui para nabi.

QS Al-Qasas ayat 52-53 juga menggambarkan orang-orang yang telah menerima kitab sebelum Al-Qur’an dan kemudian beriman kepada Al-Qur’an ketika dibacakan kepada mereka.

Namun Al-Qur’an Juga Menegaskan Posisi Islam

Pengakuan terhadap kitab dan nabi terdahulu tidak berarti Al-Qur’an menganggap semua doktrin keagamaan sebagai identik.

Dalam QS Ali Imran ayat 19, Al-Qur’an menegaskan bahwa agama yang diridai Allah adalah Islam.

Penegasan serupa terdapat dalam QS Ali Imran ayat 85, yang menyatakan bahwa agama selain Islam tidak diterima darinya.

Sementara dalam QS Al-Ma’idah ayat 3, Al-Qur’an menyatakan bahwa Islam telah disempurnakan sebagai agama.

Artinya, dalam kerangka teologi Islam, terdapat dua sisi yang berjalan bersamaan: pengakuan terhadap rangkaian wahyu dan nabi terdahulu, sekaligus keyakinan bahwa Islam merupakan risalah final bagi umat manusia.

Al-Ma’idah 48 dan Keragaman Syariat

Salah satu ayat yang sering menjadi rujukan dalam pembahasan hubungan antarkomunitas agama adalah QS Al-Ma’idah ayat 48.

BACA JUGA  Soal Demo Pelecehan Al-Qur'an, MUI Minta RI Panggil Dubes Swedia-Norwegia

Ayat tersebut menyebut Al-Qur’an sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya sekaligus sebagai muhaimin, yang dalam terjemahan yang diberikan berarti penjaga atau acuan terhadap kitab-kitab tersebut.

Ayat yang sama juga menyebut bahwa bagi setiap umat terdapat syir’ah dan minhaj, atau aturan dan jalan yang terang.

Namun ayat tersebut tidak berhenti pada perbedaan. Umat manusia justru diarahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan menyerahkan persoalan perselisihan kepada Allah.

Titik Temunya: Tuhan Yang Esa

Sejumlah ayat yang dicantumkan juga menunjukkan kuatnya tema ketauhidan.

QS Al-An’am ayat 162-163 menegaskan bahwa salat, ibadah, kehidupan, dan kematian diperuntukkan bagi Allah, Tuhan semesta alam, serta menegaskan bahwa Allah tidak memiliki sekutu.

Dalam QS Al-Hajj ayat 34, disebutkan bahwa Tuhan manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara QS Asy-Syura ayat 13 menyebut ajaran yang diwasiatkan kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, dengan penekanan agar agama ditegakkan dan tidak terjadi perpecahan di dalamnya.

Dengan demikian, tauhid menjadi salah satu titik temu utama yang ditekankan Al-Qur’an dalam rangkaian risalah para nabi.

Keragaman Tidak Berarti Semua Keyakinan Sama

Pada saat yang sama, ayat-ayat tersebut tidak menghapus perbedaan teologis antara Islam dengan agama lain.

QS Ali Imran ayat 20 menegaskan tugas Nabi Muhammad untuk menyampaikan risalah, sementara keputusan mengenai penerimaan atau penolakan menjadi urusan manusia dengan Allah.

BACA JUGA  Sudah Berdoa Tapi Tak Terkabul? Ini Kata Alquran dan Hadis

Kemudian QS Al-Ma’idah ayat 48 mengakui adanya aturan dan jalan yang berbeda bagi umat-umat tertentu.

Karena itu, pembacaan terhadap ayat-ayat tersebut perlu membedakan antara pengakuan Al-Qur’an terhadap keberadaan wahyu dan nabi terdahulu, penghormatan terhadap Ahli Kitab dalam konteks tertentu, dan klaim teologis Islam mengenai kebenaran risalah Nabi Muhammad.

Pesan Besarnya

Jika dirangkum, ayat-ayat yang disebutkan memperlihatkan beberapa pokok penting: Allah sebagai Tuhan Yang Esa, kesinambungan risalah para nabi, keberadaan kitab-kitab sebelum Al-Qur’an, posisi Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir dalam keyakinan Islam, serta kenyataan bahwa manusia memiliki perbedaan dalam menjalankan agama.

Al-Qur’an juga berulang kali mengarahkan manusia kepada tanggung jawab pribadi atas perbuatannya. QS Al-An’am ayat 164 menyatakan bahwa seseorang tidak memikul dosa orang lain dan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Dengan demikian, pembahasan agama samawi dalam Al-Qur’an tidak sederhana. Ada kesinambungan wahyu, ada persamaan pada prinsip ketauhidan, tetapi juga terdapat perbedaan teologis yang secara eksplisit ditegaskan Al-Qur’an mengenai Islam dan risalah Nabi Muhammad.

Pada akhirnya, ayat-ayat tersebut menempatkan keyakinan, perbedaan, dan tanggung jawab manusia dalam satu kerangka besar: Allah adalah Tuhan Yang Esa dan kepada-Nya seluruh manusia akan kembali. (Mun)

TRENDING