Connect with us

OASE

10 Pesan Al-Qur’an tentang Mata yang Menyentuh Hati

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id -ai

AKTUALITAS.ID – Mata adalah salah satu nikmat besar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Dengan mata, manusia dapat melihat dunia, mengenali orang-orang terkasih, membaca, mencari ilmu, serta menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah SWT.

Namun, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang mata sebagai organ untuk melihat.

Penglihatan juga berkaitan dengan keimanan, kesadaran, tanggung jawab, pengendalian diri hingga kondisi hati manusia.

Pesan paling tajam yang muncul dalam Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahwa seseorang dapat memiliki mata yang berfungsi dengan baik, tetapi tetap berada dalam kondisi yang lebih berbahaya: buta hati.

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

Pesan dalam QS. Al-Hajj ayat 46 tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan melihat secara fisik tidak selalu berarti seseorang mampu melihat kebenaran.

Berikut 10 ayat Al-Qur’an tentang mata dan makna yang dapat menjadi bahan renungan.

1. Mata Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Allah SWT menggunakan perumpamaan antara orang yang buta dan orang yang dapat melihat untuk menggambarkan perbedaan antara keadaan manusia.

Dalam QS. Al-Mu’min ayat 58, Allah berfirman:

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَلَا الْمُسِيءُ ۚ قَلِيلًا مَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya:

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak pula sama orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dengan orang-orang yang berbuat kejahatan. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.”

Mata sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena manusia menggunakannya setiap hari.

Padahal, kehilangan kemampuan melihat atau bahkan mengalami gangguan penglihatan dapat membuat seseorang menyadari betapa besar nikmat tersebut.

Dengan mata, manusia dapat membaca, belajar, bekerja dan mengenali dunia di sekitarnya.

Karena itu, penglihatan bukan sekadar kemampuan biologis, tetapi juga nikmat yang patut disyukuri.

2. Allah Berkuasa Menjaga dan Menghilangkan Penglihatan

Dalam QS. Yasin ayat 66, Allah SWT berfirman:

وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰ أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ

Artinya:

“Dan sekiranya Kami menghendaki, pasti Kami hapuskan penglihatan mereka, lalu mereka berlomba-lomba mencari jalan. Maka bagaimana mereka dapat melihat?”

Ayat ini mengingatkan bahwa kemampuan melihat bukan sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

BACA JUGA  Nuzulul Qur,an, Gus Hilmy Ajak Masyarakat Perbarui Paradigma Al-Qur'an

Nikmat penglihatan merupakan anugerah Allah SWT yang dapat menjadi pengingat bagi manusia untuk terus bersyukur.

Kemampuan melihat yang selama ini terasa biasa ternyata merupakan nikmat yang sangat besar.

3. Mata Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Penglihatan bukan hanya nikmat, tetapi juga amanah.

Dalam QS. Al-Isra ayat 36, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini menjadi peringatan bahwa apa yang dilihat manusia tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab.

Mata dapat digunakan untuk melihat kebaikan, mencari ilmu dan menyaksikan tanda kebesaran Allah.

Namun, manusia juga dituntut menjaga pandangannya dari hal-hal yang dilarang.

4. Memiliki Mata, tetapi Tidak Menggunakannya untuk Memahami

QS. Al-A’raf ayat 179 memberikan peringatan keras mengenai manusia yang memiliki hati, mata dan telinga tetapi tidak menggunakannya untuk memahami dan mengambil pelajaran.

لَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا

Artinya:

“Mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat.”

Pesan ayat ini tidak hanya berbicara tentang kemampuan fisik.

Seseorang bisa menyaksikan berbagai peristiwa, melihat tanda-tanda kebesaran Allah, bahkan melihat kesalahan di depan matanya, tetapi tetap memilih untuk tidak mengambil pelajaran.

Inilah salah satu bentuk bahaya ketika mata hanya digunakan untuk melihat secara fisik tanpa menghadirkan kesadaran.

5. Mata yang Menangis Karena Kebenaran

Mata juga menjadi gambaran kelembutan hati.

Dalam QS. Al-Maidah ayat 83, Allah SWT menggambarkan orang-orang yang matanya bercucuran air mata ketika mendengar kebenaran.

تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ

Artinya:

“Kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran yang telah mereka ketahui.”

Air mata dalam konteks ini menjadi gambaran hati yang tersentuh oleh kebenaran.

BACA JUGA  Gubernur Jambi Berikan Hadiah Umroh Santri Hafidz 30 Juz Ponpes Nurul Jadid Singkut

Pesannya, mata tidak hanya berfungsi untuk melihat, tetapi juga dapat menjadi cermin dari keadaan batin seseorang.

6. Mata yang Menangis karena Terhalang dari Amal

Dalam QS. At-Taubah ayat 92, Allah SWT menggambarkan orang-orang yang kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak mampu ikut berjuang dan menginfakkan apa yang mereka miliki.

تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا

Artinya:

“Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan.”

Ayat ini menggambarkan kesedihan seseorang yang memiliki keinginan untuk melakukan kebaikan tetapi terhalang oleh keadaan.

Tangisan tidak selalu lahir karena kehilangan urusan dunia.

Ada pula tangisan yang muncul karena kerinduan untuk melakukan amal dan kebaikan.

7. Mata Dapat Menunjukkan Kesedihan yang Mendalam

Kisah Nabi Ya’qub AS dalam QS. Yusuf ayat 84 juga menunjukkan bagaimana kesedihan yang mendalam dapat tergambar melalui mata.

وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ

Artinya:

“Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.”

Ayat ini menggambarkan betapa dalamnya kesedihan Nabi Ya’qub AS atas kehilangan Nabi Yusuf AS.

Namun, kisah tersebut juga menjadi pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian.

8. Mata Akan Terbelalak pada Hari yang Menakutkan

Dalam QS. Ibrahim ayat 42, Allah SWT mengingatkan bahwa Allah tidak lalai terhadap perbuatan orang-orang zalim.

لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya:

“Sampai pada hari ketika mata mereka terbelalak.”

Ayat ini menggambarkan keadaan manusia ketika menghadapi hari yang penuh ketakutan dan pertanggungjawaban.

Pesannya jelas: setiap tindakan manusia pada akhirnya akan kembali kepada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

9. Jangan Terus-Menerus Melihat Nikmat Orang Lain dengan Iri

Dalam QS. Thaha ayat 131, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ

Artinya:

“Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia.”

Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak terus-menerus membandingkan hidupnya dengan kenikmatan duniawi yang dimiliki orang lain.

BACA JUGA  Surat Al Hujurat: Pedoman untuk Meningkatkan Hubungan Sosial dan Keimanan

Pandangan yang dipenuhi iri dan dengki dapat merusak ketenangan hati.

Di tengah kehidupan modern dan media sosial yang dipenuhi tampilan kesuksesan serta kemewahan, pesan ayat ini terasa semakin relevan.

Tidak semua yang terlihat indah harus dimiliki.

Dan tidak semua yang dimiliki orang lain harus menjadi alasan untuk merasa kurang.

10. Buta Hati Lebih Berbahaya daripada Buta Mata

Pesan paling dalam mengenai mata terdapat dalam QS. Al-Hajj ayat 46.

Allah SWT berfirman:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya:

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

Ayat ini menjadi pengingat yang sangat kuat.

Seseorang dapat melihat dunia dengan jelas, tetapi gagal melihat kebenaran.

Seseorang dapat memiliki penglihatan yang sempurna, tetapi menutup mata terhadap penderitaan orang lain.

Seseorang dapat menyaksikan bukti, tanda dan peristiwa, tetapi tetap tidak mengambil pelajaran.

Itulah mengapa kebutaan hati digambarkan sebagai persoalan yang jauh lebih berbahaya daripada kehilangan kemampuan melihat secara fisik.

Mata Bukan Sekadar untuk Melihat

Al-Qur’an mengajarkan bahwa mata adalah nikmat sekaligus amanah.

Manusia tidak hanya diajak bersyukur karena memiliki kemampuan melihat, tetapi juga diminta mempertanggungjawabkan bagaimana nikmat tersebut digunakan.

Mata dapat menjadi jalan untuk melihat ilmu, membaca Al-Qur’an, menyaksikan keindahan ciptaan Allah dan mengambil pelajaran dari kehidupan.

Namun, mata juga harus dijaga dari pandangan yang dapat menjerumuskan manusia.

Pada akhirnya, pesan Al-Qur’an tentang mata bukan sekadar soal kemampuan melihat.

Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan manusia setelah melihat.

Sebab seseorang mungkin memiliki mata yang terbuka, tetapi belum tentu memiliki hati yang mampu memahami.

Dan Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat tajam:

Jangan hanya menjaga mata agar tetap bisa melihat, tetapi jagalah juga hati agar tidak kehilangan kemampuan untuk melihat kebenaran. (Mun)

TRENDING