Connect with us

OASE

Sifat Iri Dengki Bakal Kerap Bikin Pahala Ludes Seketika Tanpa Sisa

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Ketika melihat orang lain lebih sukses, lebih kaya, lebih dihormati, atau memperoleh sesuatu yang selama ini diinginkan, hati manusia terkadang diuji oleh rasa iri. Perasaan itu bisa tumbuh menjadi hasad atau dengki apabila seseorang mulai tidak rela melihat nikmat yang dimiliki orang lain.

Islam memberikan peringatan serius mengenai sifat tersebut. Iri dengki bukan hanya berpotensi merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga dapat mengusik ketenangan hati dan menyeret seseorang ke dalam kebencian.

Al-Qur’an bahkan secara tegas mengingatkan manusia agar tidak sibuk membandingkan karunia yang diberikan Allah kepada satu orang dengan orang lainnya.

Pesan tersebut tertuang dalam Surat An-Nisa ayat 32, yang berbunyi:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nisa: 32).

BACA JUGA  Kafilah Bengkalis Tuntaskan Registrasi MTQ Riau 2026, Bawa 70 Peserta Terbaik

Jangan Membandingkan Nikmat, Mintalah Karunia kepada Allah

Pesan ayat tersebut mengandung pelajaran penting. Ketika seseorang melihat kelebihan pada diri orang lain, jalan yang diajarkan bukanlah membiarkan hati dipenuhi kebencian atau berharap nikmat itu hilang.

Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk berusaha dan memohon karunia kepada Allah.

Setiap orang memiliki bagian, jalan hidup, ujian, serta rezekinya masing-masing. Apa yang tampak sebagai kelebihan seseorang belum tentu menggambarkan seluruh perjalanan hidupnya. Karena itu, terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain justru dapat membuat seseorang lupa mensyukuri nikmat yang telah ada di hadapannya.

Dalam sejumlah penjelasan tafsir, ayat ini juga berkaitan dengan keinginan untuk memperoleh keutamaan yang dimiliki pihak lain. Riwayat mengenai Ummu Salamah yang berharap memperoleh pahala jihad sebagaimana laki-laki menjadi salah satu latar yang disebutkan dalam pembahasan sebab turunnya ayat tersebut.

Pesan utamanya jelas: setiap hamba memiliki kesempatan untuk beramal, berusaha, dan memohon karunia Allah tanpa harus menginginkan bagian orang lain lenyap.

Hasad, Ketika Iri Berubah Menjadi Kebencian

Iri dalam kehidupan manusia dapat muncul sebagai perasaan spontan. Namun, hasad menjadi persoalan ketika rasa tersebut berkembang menjadi ketidaksukaan terhadap nikmat yang diterima orang lain, bahkan muncul keinginan agar nikmat tersebut hilang.

BACA JUGA  Al-Qur’an Bongkar Kedudukan Anak yang Sering Dilupakan

Di titik itulah hati mulai berada dalam bahaya.

Sifat dengki dapat mendorong seseorang untuk terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ketika tidak dikendalikan, perasaan tersebut bisa berubah menjadi kebencian, permusuhan, fitnah, hingga tindakan zalim.

Islam mengingatkan bahwa manusia seharusnya tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk kehilangan ketenangan dirinya sendiri.

Bukan nikmat orang lain yang membuat hati menderita, melainkan cara seseorang memandang nikmat tersebut.

Al-Qur’an Perintahkan Berlindung dari Orang Dengki

Peringatan mengenai bahaya hasad juga dapat ditemukan dalam Surat Al-Falaq ayat 5, ketika umat Islam diajarkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang dengki.

Hal itu menunjukkan bahwa kedengkian bukan sekadar persoalan batin yang berhenti di dalam hati. Ketika dibiarkan tumbuh, hasad dapat melahirkan tindakan buruk terhadap orang lain.

Al-Qur’an juga menyinggung kedengkian terhadap karunia yang diberikan Allah dalam sejumlah ayat, termasuk Surat Al-Baqarah ayat 109 dan Surat An-Nisa ayat 54.

Karena itu, menjaga hati menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting dibandingkan menjaga perilaku.

Jangan Biarkan Hati Terbakar oleh Keberhasilan Orang Lain

Di tengah kehidupan yang serba terbuka, terutama ketika masyarakat setiap hari disuguhi pencapaian orang lain melalui media sosial, godaan untuk membandingkan diri semakin besar.

BACA JUGA  Ini Tujuan Allah Menciptakan Laki-laki dan Perempuan Menurut Al-Qur'an

Ada yang merasa hidupnya tertinggal karena melihat orang lain membeli rumah. Ada yang gelisah melihat temannya sukses. Ada pula yang sulit menikmati kebahagiaan karena merasa orang lain selalu lebih beruntung.

Padahal, pesan Al-Qur’an mengarahkan manusia pada jalan yang berbeda: jangan habiskan hidup untuk menghitung nikmat orang lain. Berusahalah memperbaiki diri dan mintalah karunia kepada Allah.

Keberhasilan orang lain tidak mengurangi bagian rezeki kita. Nikmat yang Allah berikan kepada seseorang juga bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Sebab, setiap manusia memiliki perjalanan dan bagiannya sendiri.

Pada akhirnya, melawan hasad bukan berarti menolak kenyataan bahwa orang lain memiliki kelebihan. Justru sebaliknya, seseorang belajar menerima bahwa Allah membagikan karunia dengan hikmah-Nya.

Ketika hati mulai gelisah melihat keberhasilan orang lain, mungkin yang perlu dilakukan bukan bertanya, “Mengapa dia memiliki itu?”

Tetapi bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang bisa aku syukuri, usahakan, dan mohonkan kepada Allah hari ini?”

Sebab hati yang dipenuhi syukur akan lebih mudah menemukan ketenangan, sementara hati yang terus sibuk memandang nikmat orang lain berisiko kehilangan kebahagiaan atas nikmat yang sebenarnya telah dimilikinya. (Mun)

TRENDING