RAGAM
Djohan Sjahroezah: Dalang Gerakan Bawah Tanah
AKTUALITAS.ID – Nama Djohan Sjahroezah mungkin tak setenar Soekarno, Mohammad Hatta, atau Sutan Sjahrir. Namun di balik sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, ia memainkan peran penting dalam membangun jaringan pergerakan bawah tanah, terutama di kalangan buruh dan pemuda.
Djohan Sjahroezah lahir di Muara Enim, Sumatera Selatan, pada 26 November 1912. Ia merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara.
Latar belakang keluarganya membuat Djohan tumbuh dekat dengan lingkungan pergerakan. Ibunya, Radena, merupakan saudara kandung Roehana Koeddoes dan kakak Sutan Sjahrir.
Pendidikan Djohan ditempuh di sejumlah kota. Ia pernah bersekolah di ELS Medan, MULO Bandung, hingga AMS Jakarta. Sejak muda, ia sudah tertarik pada politik dan aktif dalam berbagai organisasi pergerakan.
Dipenjara Belanda karena Kritik Keras
Djohan kemudian bergabung dengan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan aktif dalam PNI Baru atau Pendidikan Nasional Indonesia yang berkaitan dengan jaringan Hatta-Sjahrir.
Aktivitas politiknya membuat pemerintah kolonial Belanda menaruh perhatian. Djohan pernah menulis artikel yang mengecam keras kerja sama dengan pemerintah kolonial.
Akibat tulisan tersebut, ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara selama sekitar 1,5 tahun di Bandung.
Namun penjara tidak membuat langkah politiknya berhenti. Setelah bebas, Djohan kembali terlibat dalam aktivitas pergerakan.
Namanya kemudian tercatat dalam sejarah pers nasional. Pada 1937, bersama Mr Soemanang, Adam Malik, dan Pando Kartawiguna, Djohan ikut mendirikan kantor berita Antara, yang kelak menjadi salah satu kantor berita utama Indonesia.
Masuk ke Jaringan Perlawanan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia, aktivitas politik Djohan semakin bergerak secara rahasia.
Mohammad Hatta mengangkat Djohan sebagai sekretaris. Posisi tersebut membuatnya memiliki akses dekat dengan Hatta sekaligus memperluas jaringan pergerakan.
Salah satu kisah menarik terjadi ketika Djohan melihat Hatta masih mencatat bantuan uang yang diberikan kepada Sutan Sjahrir.
Djohan mengingatkan Hatta bahwa catatan tersebut berbahaya jika ditemukan Jepang. Hatta kemudian menyadari risikonya dan memusnahkan catatan tersebut.
Sjahrir sendiri saat itu memilih bergerak melalui jaringan bawah tanah dan tidak ikut bekerja sama dengan pemerintahan Jepang.
Pada 1943, Djohan atau yang akrab dipanggil Djon dikirim ke Surabaya dengan dukungan Hatta. Tugasnya adalah mendekati kaum buruh minyak di bekas instalasi perusahaan Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) yang telah dikuasai Jepang.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Buruh minyak memiliki posisi strategis karena industri minyak merupakan sektor vital.
Radio Gelap dan Jaringan Rahasia
Selama berada di Surabaya, Djon tinggal di kawasan Plampitan, dekat Paneleh. Kawasan tersebut memiliki sejarah panjang dalam pergerakan nasional.
Rumah yang ditempatinya bersama sang istri, Violet alias Jojet, juga menjadi tempat bertemu sejumlah tokoh pergerakan.
Des Alwi, anak angkat Sjahrir yang dikenal memiliki kemampuan merakit radio, turut berada di sana.
Salah satu langkah penting jaringan tersebut adalah pemasangan pemancar radio gelap di Kedurus, Surabaya.
Radio menjadi sumber informasi penting karena Jepang melakukan sensor ketat terhadap pemberitaan, terutama terkait perkembangan perang di kawasan Pasifik.
Dengan jaringan tersebut, informasi mengenai perkembangan perang dapat dipantau sekaligus menjadi bahan bagi gerakan bawah tanah.
Djon juga bergerak secara diam-diam membangun jaringan di sejumlah daerah.
Ia berhubungan dengan buruh di Cepu dan Wonokromo, serta membangun komunikasi dengan pelajar di Yogyakarta.
Mantan anggota jaringan Pendidikan Nasional Indonesia juga menjadi salah satu sumber koneksi yang dimanfaatkannya untuk memperluas pergerakan.
Bukan Sekadar Jaringan Sjahrir
Djohan dikenal sebagai orang dekat Sjahrir. Namun jaringan yang dibangunnya tidak terbatas pada kelompok sang paman.
Ia juga berhubungan dengan tokoh-tokoh yang terkait dengan jaringan Tan Malaka, termasuk Adam Malik dan Sukarni.
Koneksi tersebut membuat jaringan bawah tanah yang dibangun Djohan memiliki cakupan yang lebih luas.
Sejarawan Rudolf Mrazek bahkan mencatat kuatnya persepsi bahwa ketika Djohan datang ke suatu tempat, ia dianggap berbicara atas nama Sjahrir.
Namun Djohan memiliki karakter pergerakan sendiri. Ia lebih banyak masuk ke lingkungan buruh dan kelompok masyarakat dengan latar pendidikan yang beragam.
Langkah tersebut menjadi penting karena perlawanan terhadap Jepang tidak hanya membutuhkan tokoh intelektual, tetapi juga jaringan massa.
Jejaknya dalam Pertempuran Surabaya
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Djohan masih berada di Surabaya.
Ia menyaksikan langsung gejolak yang kemudian meledak dalam Pertempuran 10 November 1945.
Jaringan yang dibangun sebelumnya di kalangan buruh turut memiliki peran dalam mobilisasi massa dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Djohan kemudian mendirikan Serikat Buruh Minyak di Jawa Timur. Baginya, buruh memiliki posisi strategis dalam menggerakkan masyarakat pada masa revolusi.
Para buruh minyak muda juga kemudian menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan aset industri minyak untuk Republik Indonesia.
Dari BP-KNIP hingga PSI
Setelah kemerdekaan, Djohan menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP). Ia kemudian sempat duduk sebagai anggota DPR.
Karier politiknya berlanjut di Partai Sosialis Indonesia (PSI), partai yang dipimpin Sutan Sjahrir.
Namun perjalanan PSI tidak berlangsung panjang. Setelah pengaruhnya melemah dalam politik nasional, PSI akhirnya dibubarkan Presiden Soekarno pada 1960.
Sejumlah tokohnya kemudian menghadapi tekanan politik dan penahanan.
Djohan tetap dikenang sebagai salah satu tokoh yang memiliki kemampuan membaca situasi politik. Dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga revolusi kemerdekaan, ia memilih bergerak melalui jaringan dan komunikasi yang relatif senyap.
Akhir Perjalanan Sang Aktivis Bawah Tanah
Djohan Sjahroezah meninggal dunia di Jakarta pada 2 Agustus 1968 dalam usia 55 tahun.
Namanya mungkin tidak selalu berada di garis depan narasi sejarah Indonesia. Namun jejaknya menunjukkan bagaimana perjuangan kemerdekaan juga dibangun melalui jaringan rahasia, buruh, pemuda, radio gelap, dan komunikasi politik yang berlangsung jauh dari sorotan.
Djohan bukan sekadar aktivis politik. Ia adalah salah satu penghubung penting antara jaringan pergerakan sebelum kemerdekaan, gerakan bawah tanah pada masa Jepang, dan perjuangan mempertahankan Republik setelah 1945. (Mun)
-
JABODETABEK28/08/2026 14:15 WIBKericuhan DPR Meluas, Satu Orang Dikabarkan Tewas di Tengah Chaos
-
RIAU28/08/2026 14:30 WIBPolda Riau Tangani 37 Kasus Karhutla, 40 Orang Jadi Tersangka
-
JABODETABEK28/08/2026 15:30 WIBPemprov DKI Sesalkan Aksi Perusakan CCTV
-
NASIONAL28/08/2026 17:00 WIBKabur ke Singapura, Bos Planet Batam Yuwanky Akhirnya Dicokok Bareskrim
-
POLITIK28/08/2026 16:00 WIBNasaruddin Umar Bantah Isu Mundur Demi Rebut Kursi Ketua PBNU
-
JABODETABEK28/08/2026 20:00 WIBAsyik Ngopi di Gang, Siswa SMA Diseret dan Dihajar Kelompok Diduga Ormas
-
RIAU28/08/2026 22:00 WIBPolisi Tangkap Pria Pembakar Lahan Sawit Gara-Gara Rokok
-
POLITIK29/08/2026 10:00 WIBHaikal Hasan: Klarifikasi Budi Arie Tak Bisa Diterima

















