Connect with us

OTOTEK

China Pakai AI Murahan Untuk Hancurkan Dunia Siber

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Perang siber global memasuki babak baru yang kian mengerikan. Kelompok peretas yang diduga kuat terafiliasi dengan pemerintah China dilaporkan melipatgandakan intensitas serangan siber di seluruh dunia. Langkah ini dilancarkan setelah mereka berhasil mengintegrasikan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sumber terbuka, khususnya DeepSeek, ke dalam taktik peretasan mereka.

Berdasarkan laporan terbaru lembaga riset keamanan siber Taiwan, TeamT5, volume serangan siber melonjak lebih dari dua kali lipat. Para peretas mulai mengotomatisasi tugas-tugas rutin kepada AI dan menggunakannya untuk menciptakan malware canggih secara masif.

Di saat pejabat keamanan AS mengkhawatirkan potensi otonom AI tingkat lanjut yang berisiko lepas kendali, peretas China justru memanfaatkan model AI berkapabilitas efisien namun berbiaya operasional super murah.

BACA JUGA  Soal Laut China Selatan, Dubes China-Australia Debat Sengit di Twitter

Dibandingkan model lokal seperti Kimi K3, DeepSeek menjadi pilihan utama karena memiliki benteng keamanan (cyber guardrails) yang sangat lemah.

“DeepSeek menjadi AI favorit peretas China karena tergolong andal namun punya benteng keamanan yang sangat lemah. Model AI Barat memang diminati, tetapi pembatas keamanannya sangat ketat dan butuh usaha ekstra keras untuk ditembus,” ungkap Chief Analyst TeamT5, Charles Li.

Rekam Jejak Serangan Grup Peretas China

Grimfengxi: Menggunakan DeepSeek untuk merancang kode eksploitasi celah keamanan (exploit code).

Huapi: Memanfaatkan AI China untuk membobol sistem email perusahaan teknologi di Taiwan.

Teleboyi: Menggunakan AI untuk mengumpulkan 1.000 alamat IP dan memetakan domain perusahaan target secara instan.

BACA JUGA  Freeport Klaim 'Didekati' Perusahaan China untuk Bangun Smelter

Tak hanya AI lokal, peretas juga mengakali AI terkemuka buatan raksasa teknologi AS. Firma siber CyCraft menemukan bukti bahwa pengembang perangkat lunak peretasan sempat berkonsultasi dengan ChatGPT untuk membuat modul pembobol basis data aplikasi perpesanan Signal. Tool bajakan tersebut dijual seharga 300.000 hingga 500.000 yuan kepada kelompok peretas kelas atas seperti Mustang Panda.

Sementara itu, grup peretas Slime22 ketahuan menyalahgunakan Claude Code milik Anthropic dengan berpura-pura menjadi engineer siber yang melakukan uji penetrasi (penetration testing). Anthropic mencatat insiden ini sebagai kasus peretasan otonom berskala besar pertama di dunia yang berhasil dieksekusi tanpa campur tangan manusia secara signifikan.

Menanggapi maraknya ancaman ini, OpenAI dan Anthropic menegaskan komitmen mereka untuk terus memblokir dan melacak segala bentuk penyalahgunaan model AI oleh aktor siber ilegal. (Firman/Mun)

BACA JUGA  Perkosa Sembilan Murid, Seorang Guru SD di China Dihukum Mati

TRENDING