Connect with us

OASE

Nabi Idris Disebut Langsung di Al-Qur’an

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKUTALITAS.ID – Nama Nabi Idris AS memang tidak banyak disebut dalam Al-Qur’an. Namun, sedikitnya penyebutan bukan berarti minim makna. Justru dalam dua surah yang secara langsung menyebut namanya, Al-Qur’an memberikan gambaran yang kuat tentang kemuliaan akhlak dan kedudukan Nabi Idris di sisi Allah SWT.

Nabi Idris AS disebut secara langsung dalam Surah Maryam ayat 56–57 dan Surah Al-Anbiya ayat 85–86. Dari ayat-ayat tersebut, tergambar sejumlah sifat utama yang dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam, yakni kejujuran dalam membenarkan kebenaran, kesabaran, kesalehan, serta kemuliaan derajat.

Dipuji sebagai Sosok Siddiq dan Nabi

Dalam Surah Maryam, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menceritakan kisah Idris dalam Al-Qur’an.

Nabi Idris digambarkan sebagai sosok siddiq, yakni pribadi yang sangat benar dan teguh dalam membenarkan kebenaran. Al-Qur’an juga menegaskan kedudukannya sebagai seorang nabi.

Allah SWT kemudian menyebut Nabi Idris sebagai hamba yang diangkat ke tempat atau kedudukan yang tinggi.

BACA JUGA  Ayat Al-Qur’an tentang Angin Kencang yang Bikin Merinding

Pujian tersebut menjadi gambaran tentang kemuliaan Nabi Idris AS. Kejujuran dan keteguhan iman bukan sekadar akhlak pribadi, melainkan nilai yang menempatkan seorang hamba pada kedudukan mulia di hadapan Allah SWT.

Nabi yang Termasuk Golongan Sabar

Nama Nabi Idris kembali disebut dalam Surah Al-Anbiya. Dalam ayat tersebut, Nabi Idris disebut bersama Nabi Ismail dan Nabi Zulkifli sebagai golongan orang-orang yang sabar.

Kesabaran menjadi salah satu sifat penting dalam perjalanan seorang nabi. Dakwah, ketaatan, dan perjuangan menegakkan kebenaran tidak selalu berjalan mudah.

Karena itu, penyebutan Nabi Idris dalam kelompok orang-orang yang sabar menjadi pesan penting bahwa keteguhan hati merupakan bagian dari jalan menuju kesalehan.

Dalam lanjutan ayat tersebut, Allah SWT juga menyebut para nabi itu dimasukkan ke dalam rahmat-Nya karena termasuk orang-orang saleh.

Hanya Dua Surah, Pelajarannya Sangat Besar

Al-Qur’an memang tidak memaparkan kisah Nabi Idris AS secara panjang lebar seperti beberapa nabi lainnya. Namun, dua penyebutan langsung tersebut telah memberikan fondasi kuat mengenai sifat-sifat utamanya.

BACA JUGA  Al-Qur'an Tegaskan Hewan yang Boleh dan Haram Dimakan

Nabi Idris dikenal dalam Al-Qur’an sebagai sosok yang:

Siddiq, sangat benar dan teguh membenarkan kebenaran;

Seorang nabi, pembawa risalah dari Allah SWT;

Termasuk orang yang sabar;

Termasuk golongan orang saleh;

Diangkat ke kedudukan yang tinggi oleh Allah SWT.

Sifat-sifat inilah yang menjadi inti pelajaran dari penyebutan Nabi Idris dalam Al-Qur’an.

Jangan Keliru, Tidak Semua Ayat tentang Para Nabi Khusus Menceritakan Idris

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai perjuangan, ketakwaan, kesabaran, dan tugas para nabi. Nilai-nilai tersebut tentu dapat menjadi bahan renungan untuk memahami perjuangan para utusan Allah, termasuk Nabi Idris AS.

Namun, penting untuk membedakan antara ayat yang menyebut Nabi Idris secara langsung dan ayat yang berbicara secara umum tentang para rasul atau nabi lainnya.

Karena itu, jika berbicara secara tekstual, Al-Qur’an menyebut nama Nabi Idris secara langsung dalam dua surah, yakni Surah Maryam serta Surah Al-Anbiya. Sementara ayat-ayat lain dapat digunakan untuk memperkaya pemahaman mengenai nilai universal perjuangan para nabi, tetapi tidak otomatis merupakan kisah khusus tentang Nabi Idris.

BACA JUGA  Etika yang Harus di Miliki Seorang Pemimpin dalam Al-Quran dan Hadist

Kejujuran dan Kesabaran, Pesan yang Tetap Relevan

Di tengah kehidupan yang penuh ujian, pelajaran dari Nabi Idris AS tetap terasa relevan. Al-Qur’an menghadirkan sosoknya melalui karakter, bukan sekadar rangkaian peristiwa panjang.

Kejujuran, keteguhan pada kebenaran, kesabaran, dan kesalehan menjadi nilai yang melekat pada penyebutan Nabi Idris AS.

Pesannya sederhana, tetapi mendalam: kemuliaan tidak hanya dibangun melalui pencapaian yang terlihat manusia, melainkan juga melalui keteguhan menjaga kebenaran dan kesabaran dalam menjalani jalan ketaatan.

Kisah Nabi Idris AS mengingatkan bahwa setiap ujian dapat menjadi ruang untuk memperkuat iman. Dan dalam pandangan seorang mukmin, kejujuran serta kesabaran bukan kelemahan, melainkan bagian dari jalan menuju kemuliaan di sisi Allah SWT. (Mun)

TRENDING