Connect with us

DUNIA

Takut Malaka Jadi Hormuz, Thailand Bikin Terusan Rp547 T

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id -ai

AKTUALITAS.ID – Eskalasi militer yang membakar Timur Tengah dan melumpuhkan Selat Hormuz kini memicu kepanikan hingga ke Asia Tenggara. Bayang-bayang krisis di titik transit energi paling krusial dunia itu memaksa Thailand mengambil langkah radikal: membangkitkan kembali proyek raksasa “Jembatan Darat” (Land Bridge) senilai 1 triliun baht atau setara Rp547 triliun.

Proyek ambisius ini dirancang sebagai rute alternatif mutlak untuk menghindari Selat Malaka, yang dikhawatirkan bernasib sama seperti Selat Hormuz—menjadi titik nyala konflik global yang sewaktu-waktu bisa menghentikan urat nadi perdagangan dan pasokan energi dunia akibat perseteruan geopolitik.

Nantinya, Land Bridge ini tidak sekadar menggali kanal, melainkan mengintegrasikan dua pelabuhan laut dalam strategis: satu di Ranong yang menghadap Laut Andaman, dan satu lagi di Chumphon di Teluk Thailand. Kedua titik ini akan disambungkan oleh jaringan infrastruktur masif sepanjang 90 kilometer, mencakup jalan tol, rel kereta api, hingga jaringan pipa energi berkapasitas tinggi. Jalur pintas ini diklaim akan memangkas drastis waktu tempuh kapal-kapal kargo dari Asia Timur menuju kawasan Timur Tengah dan Eropa.

BACA JUGA  Siap Tempur Lawan Thailand di Piala Thomas, Ini Susunan Pemain Indonesia 

“Ini adalah peluang ekonomi raksasa bagi Thailand dan magnet bagi investor asing, jika proyek ini benar-benar bisa dieksekusi,” tegas Juru Bicara Pemerintah Thailand, Rachada Dhanadirek.

Kepanikan Bangkok memiliki dasar yang sangat jelas. Penutupan jalur Selat Hormuz akibat konflik terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah merusak keseimbangan rantai pasok global. Menjadikan Selat Malaka sebagai satu-satunya tumpuan lalu lintas laut di Asia kini dinilai terlalu rentan.

Meski demikian, realisasi proyek bernilai setengah kuadriliun rupiah ini tidak semudah membalik telapak tangan. Pemerintah Thailand masih harus berhadapan dengan gelombang penolakan dari warganya sendiri. Kegagalan proposal serupa di masa lalu, ditambah gejolak politik domestik serta belum tuntasnya dokumen analisis dampak lingkungan dan kesehatan publik, menjadi jurang rintangan besar yang harus dilewati sebelum daratan Thailand benar-benar dibelah. (Mun)

BACA JUGA  Hasil Piala Asia 2023: Thailand dan Arab Saudi Menang Atas Lawannya di Grup F

TRENDING