Connect with us

NUSANTARA

Mencari Makanan Gratis, 3 Nyawa Terenggut di Pernikahan Anak Dedi Mulyadi

Aktualitas.id -

Pesta pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan anak Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoyo berakhir tragis. Tiga orang tewas akibat terinjak-injak. Foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Suasana sukacita pernikahan Maula Akbar, putra Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dengan Putri Karlina, Wakil Bupati Garut, mendadak berubah menjadi duka mendalam. Di tengah kemeriahan yang seharusnya, sebuah tragedi memilukan terjadi di Pendopo Pemkab Garut, saat 14 orang tumbang akibat desak-desakan demi mendapatkan makanan gratis. Tiga di antaranya bahkan harus menghembuskan napas terakhirnya, menyisakan luka dan tanda tanya besar.

Kombes Pol Hendra Rochmawan, Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, dengan nada prihatin mengonfirmasi kabar duka ini. “Dari 14 orang yang pingsan, tiga di antaranya dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa para korban pingsan segera dilarikan ke RSUD dr. Slamet dan Rumah Sakit Guntur untuk perawatan medis.

Salah satu korban jiwa adalah sosok yang justru tengah berjuang demi keselamatan orang lain: Bripka Cecep Saeful Bahri, seorang anggota Polres Garut. Ia, yang semula sigap membantu mengamankan dan mengangkat para korban yang pingsan, takdirnya justru berakhir tragis. Setelah situasi sedikit mereda, Bripka Cecep duduk untuk beristirahat. Namun, tanpa disangka, ia tiba-tiba pingsan dan mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian. Kepergiannya menjadi pengingat pahit akan risiko yang senantiasa membayangi para petugas keamanan di tengah kerumunan besar.

Daftar Korban Jiwa dan Mereka yang Bertahan di Tengah Keterbatasan
Korban Meninggal Dunia:

Vania – Sindangheula, Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota

Dewi Jubaedah – Jl. Lontar II, Koja, Jakarta Utara

BRIPKA Cecep Syaeful Bahri, S.H – Anggota Polsek Karangpawitan, Polres Garut

Korban Pingsan dan Dirawat di Rumah Sakit:

Nenih – Sukatani, Cisurupan

Iyah (49) – Panunggaran, Sukabakti

Iis Ismayati (48) – Kemuning Pramuka, Pakuwon

Siti Hasanah (65) – Bojong Salam

Tasya Aulia (16) – Cipanas, Tarogong Kaler

Onyas (45) – Cijungkung, Siliwangi

Safira (14) – Ciwalen, Garut Kota

Sipa Fauziah (17) – Cilawu, Genteng

Yati Haryati (56) – Gunung Puntang

Mimi (56) – Sukapadang, Tarogong Kidul

Aris Krisdina (48) – Bojongloa Kaler, Bandung

Iyan (33) – Pataruman, Tarogong Kidul

Zahra Novania (14) – Bayongbong

Sutisna (66) – Bandung

Peristiwa memilukan ini sontak menjadi buah bibir dan memantik perdebatan sengit mengenai standar pengamanan serta pengaturan acara-acara besar. Banyak pihak menyerukan pentingnya pengelolaan kerumunan yang lebih ketat demi menjamin keselamatan setiap orang yang hadir. Pemerintah dan panitia acara diharapkan untuk segera mengambil langkah konkret, meningkatkan pengawasan, dan menyusun strategi matang agar tragedi serupa tak lagi mencoreng kemeriahan di masa mendatang.

Lebih dari sekadar insiden, kejadian ini adalah pengingat yang menyakitkan akan betapa rapuhnya keselamatan di tengah euforia. Ia menuntut kesadaran kolektif dan tanggung jawab bersama dalam setiap kegiatan yang melibatkan massa. Marilah kita belajar dari kepedihan ini, bertindak lebih bijak, dan selalu memprioritaskan keselamatan di atas segalanya. (Yan Kusuma/Mun)

TRENDING