Connect with us

OASE

Kandungan Surah Al-Muddassir: Seruan Dakwah Pertama dan Potret Dahsyatnya Hari Kiamat

Aktualitas.id -

Surah Al-Muddassir, Foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Surah Al-Muddassir menempati posisi istimewa dalam sejarah Islam sebagai salah satu wahyu awal yang diterima Nabi Muhammad SAW. Surah ke-74 dalam Al-Qur’an ini bukan sekadar bacaan, melainkan tonggak dimulainya fase dakwah secara terang-terangan.

Surah yang terdiri dari 56 ayat ini tergolong surah Makkiyah. Secara bahasa, Al-Muddassir (berasal dari kata al-Mutadatsir) memiliki arti “Orang yang Berkemul” atau berselimut. Penamaan ini merujuk pada kondisi Nabi Muhammad SAW saat wahyu ini turun.

Bagi umat Islam, memahami kandungan Surah Al-Muddassir sangat penting sebagai referensi mempelajari semangat dakwah dan peringatan akan hari akhir. Berikut adalah rangkuman lengkap kandungan, asbabun nuzul, hingga tafsir utamanya.

1. Asbabun Nuzul: Kisah “Selimutilah Aku”

Melansir dari kitab Tafsir Al-Munir karya Syekh Wahbah Zuhaili, latar belakang turunnya surah ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah.

Dikisahkan, setelah mengalami masa kekosongan wahyu (fatrah), Rasulullah SAW mendengar suara dari langit dan melihat Malaikat Jibril duduk di antara langit dan bumi. Pemandangan agung tersebut membuat Nabi gemetar ketakutan hingga pulang menemui istrinya, Khadijah, seraya berkata, “Datsiruni, datsiruni” (Selimutilah aku, selimutilah aku).

Dalam kondisi berselimut itulah Allah menurunkan ayat: “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS. Al-Muddassir: 1-2).

2. Tiga Kandungan Pokok Surah Al-Muddassir

Secara garis besar, surah ini memuat tiga pilar utama yang menjadi pondasi ajaran Islam di masa permulaan:

A. Perintah Tegas untuk Berdakwah (Ayat 1-10)
Ayat-ayat awal berisi instruksi langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad untuk meninggalkan kenyamanan (selimut/tidur) dan mulai memberi peringatan kepada umat manusia. Nabi diperintahkan untuk mengagungkan Tuhan, menyucikan diri lahir batin, serta bersabar menghadapi gangguan dalam berdakwah.

B. Ancaman bagi Penentang Kebenaran (Ayat 11-31)
Bagian ini menyoroti sikap keras kepala para pembesar musyrik Makkah, secara spesifik menyinggung tokoh Al-Walid bin Al-Mughirah. Meskipun mengakui keindahan Al-Qur’an, kesombongan membuatnya menuduh Al-Qur’an sebagai sihir.

Allah membalas tuduhan tersebut dengan ancaman Neraka Saqar. Digambarkan bahwa Saqar adalah neraka yang menghanguskan kulit manusia dan dijaga oleh 19 malaikat yang penyiksaannya sangat keras dan tidak dapat dikalahkan.

C. Pertanggungjawaban Manusia di Hari Kiamat (Ayat 32-56)
Surah ini menutup dengan potret dialog di akhirat antara “Golongan Kanan” (penghuni surga) dan para pendurhaka. Ketika ditanya “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?”, para pendurhaka menjawab dengan empat kesalahan fatal:

Tidak melaksanakan salat.

Tidak memberi makan orang miskin.

Suka membicarakan hal batil.

Mendustakan hari pembalasan.

3. Korelasi dengan Surah Al-Muzzammil

Surah Al-Muddassir memiliki kaitan erat dengan surah sebelumnya, Al-Muzzammil. Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa jika Al-Muzzammil memerintahkan Nabi untuk sholat malam (persiapan spiritual pribadi), maka Al-Muddassir memerintahkan Nabi untuk bangun dan memberi peringatan (aksi sosial/dakwah kepada orang lain).

Surah Al-Muddassir mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah memerlukan perpaduan antara kesucian diri (akhlak mulia) dan keteguhan hati (sabar). Surah ini juga menjadi pengingat keras bahwa setiap manusia tergadai oleh perbuatannya sendiri dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Ilahi. (Mun)

TRENDING